Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan

Ketahanan Pangan Nasional Terancam


Apa yang ditakuti bangsa Indonesia bener-bener terjadi. Harga dan pemenuhan kebutuhan pokok warga yang berbasis pertanian sudah didikte oleh bangsa lain. Hampir seluruh produk pertanian yang ada di Indonesia sekarang ini tidak terlepas dari cengkraman asing. Kenaikan harga-harga komoditas pertanian di tingkat harga dunia dapat dipastikan akan mempengaruhi tingkat harga lokal di Indonesia. Kenapa harga-harga produk pertanian dunia naik? Tentu saja kenaikan produk pertanian tidak terlepas dari naiknya tingkat harga minyak mentah dunia yang begitu tinggi sehingga negara-negara maju mengantisipasinya dengan cara menggantikan minyak mentah dengan biofuel yang dimana biofuel hanya dapat dihasilkan dari produk-produk pertanian.

Amerika Serikat contohnya, AS merupakan negara penghasil kedelai terbesar di dunia tetapi setelah harga minyak mentah naik. AS merubah sebagian hasil kedelainya ± 15% menjadi biofuel. Otomatis harga kedelai akan naik karena supply kedelai tidak sebanding dengan kebutuhan masyarakat akan kedelai yang semakin meningkat. Tidak hanya kedelai, komoditas lainnya seperti beras, gandum, jagung dan minyak sawit terkena imbas lonjakan harga akibat pengalihan minyak mentah tersebut.

Harga kedelai dunia saat ini naik 100% yaitu dari ±300 dolar AS per ton pada awal tahun 2007 menjadi ±600 dolar AS per ton pada akhir tahun 2007. Begitu pula dengan komoditas lainnya (2 tahun terakhir) beras naik 18, 25% dari $274, 67 menjadi $324, 8 per ton, Gandum naik 108, 02% dari $180, 01 menjadi $374, 45 per ton, Jagung naik 48, 76% dari $53, 98 menjadi $80, 3 dan minyak sawit naik 124, 28% dari $420, 23 menjadi $942, 5.

Padahal untuk diketahui saja, kita adalah salah satu importir terbesar kedelai yaitu sebesar 68, 5% dari kebutuhan nasional, importir jagung sebesar ±25%, dan yang paling parah adalah gandum/terigu yaitu 100% kebutuhan nasional kita import seluruhnya dari Amerika Serikat. Pada awal januari 2007 lalu harga lokal kedelai eceran masih sekitar Rp 3.450 tetapi setelah AS mengeluarkan kebijakan pengalihan minyak mentah dengan biofuel sekarang harga lokal kedelai telah berubah menjadi Rp 7.500/kg. Harga kedelai dan komoditas lainnya diprediksi akan terus mengalami kenaikan seiring naiknya harga minyak mentah di pasar dunia yang semakin tinggi dan lahan pertanian kedelai yang tiap tahunnya mengalami penyusutan. Menunggu turunnya harga kedelai dan komoditas lainnya tanpa kita berusaha mencoba untuk memproduksi kebutuhan sendiri sama saja menunggu kucing bersahabat dengan tikus (emangnya Tom and Jerry :p) alias ga mungkin githu lho !!.

Jangan pernah beralasan tanpa berbuat yaitu dengan mengatakan (selalu untung  ga mau rugi he..he) “Untung saja hanya kedelai (bukan termasuk salah satu dari 9 bahan pokok) coba kalau beras kita bisa ga makan”. Seharusnya kita memperkuat ketahanan pangan kita di seluruh produk-produk petanian tanpa terkecuali bukannya mencari-cari alasan untuk membenarkan kesalahan apa yang kita perbuat selama ini. Apa ga malu dengan Negara Vietnam? Pada tahun 80-an Vietnam masih dilanda perang saudara bahkan dengan Amerika (yang dimana Rambo sebagai jagoannya) dan luas wilayahnya pun hanya 329.560 km2 bandingkan dengan Indonesia yang luasnya hampir mencapai 2 juta km2 tetapi kenapa Vietnam bisa dinobatkan sebagai penghasil beras terbesar dunia? Vietnam juga telah memiliki pangsa pasar beras sebesar 40-45% kebutuhan beras pasar dunia dan yang paling menyakitkan adalah kita sebagai negara agraris harus melakukan impor beras dari Vietnam untuk mengatasi kekurangan pasokan beras serta menstabilkan harga beras secara nasional sebanyak 1, 5 juta ton/tahun. So, Apa yang harus kita lakukan? tidak ada jalan lain selain kita harus mandiri dan terbebas dari campur tangan asing. Anda siap?

Budi Wahyu Mahardhika
mahardhika@snfconsulting.com
Kejawan, 11 Muharram 1429 H

Dilema Privatisasi BUMN

Perusahaan dikatakan baik apabila memiliki trend pertumbuhan, diminati investor, mampu membukukan keuntungan (profitable), memiliki prospek yang baik, memiliki produk/jasa unggulan, memiliki kompetensi teknis dan yang terakhir mempunyai manajemen yang andal. Dalam era globalisasi seperti sekarang ini perusahaan-perusahaan di Indonesia terutama BUMN diwajibkan untuk mewujudkan itu semua jika ingin tetap eksis dan bersaing dengan kompetitor dari negara lain. Tetapi pada kenyataannya, setiap tahun rata-rata 25% perusahaan-perusahaan BUMN malah mengalami kerugian sehingga bukannya menambah pendapatan APBN malah menjadi beban bagi negara.

Apa yang harus dilakukan pemerintah? Pertama, pemerintah mencoba memperbaiki sendiri perusahaan-perusahaan BUMN itu yaitu dengan cara melakukan restrukturisasi. Tetapi cara ini masih kurang berhasil selain terbatasnya anggaran pemerintah untuk memperbaiki kinerja, pemerintah juga dihadapkan dengan masalah budaya korupsi yang sudah melekat di setiap BUMN yang ada. Maka dibutuhkan keterlibatan pihak lain yang membantu untuk memperbaikinya, oleh karena itu, privatisasi merupakan salah satu alternatif terbaik untuk meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan-perusahaan BUMN.


Ada 4 pandangan/sudut pandang dalam hal menentukan keputusan privatisasi, ada 3 hal yang mendukung privatisasi dan 1 hal yang menolak privatisasi. Kita bahas yang mendukung privatisasi yaitu pertama, ekonomi mikro (Kementerian Negara BUMN), kedua, ekonomi makro (Departemen Keuangan), ketiga, pemakai jasa/barang (Masyarakat), dan yang menolak yaitu dari sudut pandang ekonomi politik (Legislatif) .

Ekonomi mikro bertujuan meningkatkan produktivitas, profitabilitas, efisiensi, dan pengurangan hutang BUMN. Privatisasi juga meningkatkan Good Corporate Governance (GCG), masuknya sumber keuangan baru ke perusahaan, pengembangan pasar, manfaat alih teknologi dan yang terakhir peningkatan jaringan usaha. Kementerian Negara BUMN mau tidak mau harus melakukan keputusan privatisasi dikarenakan pemerintah menginginkan setiap perusahaan BUMN yang ada menjadi sehat dan mencetak laba dalam setiap tahunnya.

Dari sisi ekonomi makro, tujuan privatisasi berorientasi pada kepentingan fiskal, yaitu untuk menambah sumber Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), perbaikan iklim investasi, dan pengembangan pasar modal. Dalam jangka panjang, keberhasilan program privatisasi dapat mendukung sumber dana APBN. Semakin besar laba yang dapat dihasilkan BUMN maka dapat kita pastikan juga pemasukan untuk APBN yang berasal dari pajak dan dividen akan semakin meningkat.

Obyektivitas pemakai jasa/barang lebih banyak dipengaruhi oleh tingkat harga barang/jasa yang terbentuk di masyarakat. Tentu saja, semakin banyak persaingan yang terjadi di bisnis sejenis maka tingkat harga yang terbentuk akan semakin murah sehingga jasa/barang yang diperjualbelikan dapat terjangkau oleh masyarakat luas.


Obyektivitas ekonomi politik bertujuan melindungi asset nasional dengan pertimbangan melindungi bidang usaha yang berkaitan dengan nasionalisme, keamanan negara dan usaha sumber daya alam. Memang sekarang tingkat kepemilikan pemerintah di setiap perusahaan-perusahaan BUMN masih mayoritas dimana pemerintah masih memiliki saham di atas 51 persen di seluruh BUMN yang ada, pengecualian pada Indosat yang melepas lebih dari 85 persen kepemilikan pemerintah. Tetapi tidak menutup kemungkinan kalau pemerintah hanya menitikberatkan pada keuntungan ekonomi makro dan mikro saja tanpa melibatkan nasionalisme/ekonomi politik maka perusahaan yang dahulunya milik/monopoli pemerintah Indonesia dapat berpindah ke perusahaan/pemerintah negara lain.

Saat ini sekitar 10% BUMN telah di privatisasi dari total 140 perusahaan BUMN. Untuk tahun 2008, Kementerian Negara BUMN merencanakan target privatisasi 28 perusahaan BUMN lagi atau sekitar 20% dari jumlah total perusahaan BUMN.
Jadi, bagaimana menurut teman-teman ? Privatisasi itu baik atau buruk ? Apabila tidak di privatisasi maka perusahaan BUMN tidak mampu bersaing dan pemerintah pun mengalami kerugian dikarenakan menanggung beban-beban yang ada. Tetapi jika diteruskan maka perusahaan-perusahaan milik pemerintah akan dikuasai sepenuhnya oleh perusahaan asing dikarenakan perusahaan dalam negeri masih belum mampu bersaing dalam hal penyediaan modal. Dilema bukan ? (Sumber : Kompas, 10 Desember 2007).

Budi W.Mahardhika
mahardhika@snfconsulting.com
Kejawan Gebang, 18 Desember 2007 (02.40)

Naik-Naik..BBM Naik

Ironis…ketika negara-negara penghasil minyak mendapatkan panen besar, Indonesia sebagai produsen minyak malah merugi. Bukti panen besar produsen minyak negara-negara Timur Tengah adalah pembelian besar-besaran armada udara Boeing 320 dreamliners yang harganya 320 juta dollar US (sekitar 3 Trilyun) oleh maskapai penerbangan mereka. Salah satunya adalah maskapai penerbangan Qatar (Emerates) telah membeli 70 dreamliners bertipe A30XWB sebanyak 70 buah dan 11 buah dreamliners bertipe A30 begitu pun maskapai saingannya yaitu Qatar Airlines telah memesan 142 pesawat Boeing terbaru yang didalamnya termasuk 30 Boeing dreamliners untuk menjalankan aktivitas operasional mereka. Bahkan Pangeran Awalid pun yang mempunyai kekayaan 20,3 milyar dollar (180 Trilyun) dari Arab Saudi turut ikut-ikutan membeli Boeing 320 dreamliners untuk kendaraan pribadi.(Bisnis Indonesia )

Mengapa harga minyak dunia naik? Ada 3 kemungkinan, yaitu pertama, minyak naik karena ketegangan politik di Timur Tengah terutama ketegangan di Irak. Kedua, berkurangnya kapasitas produksi minyak dunia dalam menyuplai kebutuhan dunia atau yang terakhir adalah spekulasi harga global yang menginginkan harga minyak naik Berita terakhir OPEC memutuskan tidak menaikan produksi dengan pertimbangan sudah menaikkan produksinya pada November silam sebesar 500 ribu barrel (Detik Finance) sehingga diyakini harga minyak tidak akan turun di bawah level $80 per barrel (Menurut Paskah Suzetta) padahal dalam APBN 2007, asumsi harga minyak dipatok hanya $60 per barrel.

Kebutuhan akan minyak dunia tiap harinya terus bertambah sedangkan kapasitas produksi minyak dunia tiap harinya relatif tetap maka tidak heran kalau harga minyak tiap tahunnya bukan tambah murah malah semakin mahal. Indonesia sebagai produsen minyak dengan kapasitas maksimal produksi kilang 1,046 juta barrel (Rata-rata hanya 950 ribu barrel) per hari tidak mampu menutupi kebutuhan akan BBM dalam negeri yang rata-rata tiap harinya 1,4 juta barrel sehingga mau tidak mau bangsa kita harus mengimpor 450 ribu barrel per hari atau lebih dari 40% dari kebutuhan nasional.

Kenaikan harga minyak menyebabkan subsidi BBM ikut meningkat. Tahun 2007, subsidi BBM yang dalam APBN dianggarkan sebesar 55,6 Trilyun membengkak menjadi 87,7 Trilyun begitu juga subsidi listrik dari 32,4 Trilyun menjadi 43,47 triliun. Asumsi subsidi BBM di tahun 2008 untuk harga minyak dunia berturut-turut $90,$95 dan $100 per barrel maka pemerintah harus mensubsidi sebesar 140,8 T, 155,8 T dan 170,7 T padahal anggaran pendidikan setahun hanya 51,4 Trilyun hampir sama dengan cicilan hutang pemerintah sebesar 54,1 Trilyun tiap tahunnya dari total pendapatan pemerintah sekitar 400 Trilyun per tahun. Maka bersiap-siagalah mulai tanggal 01 Januari 2008 pemerintah mau tidak mau harus menaikan harga BBM dalam negeri karena tidak sanggup untuk mensubsidi beban yang begitu besar.

Harga BBM bertahap akan naik untuk premium (Oktan 88) tetap yaitu Rp.4500 per liter tapi hanya diperuntukkan untuk kendaraan dinas, umum dan sepeda motor. Sedangkan untuk kendaraan pribadi diharuskan menggunakan BBM premium jenis Oktan 90 dan Pertamax yang harganya masing-masing Rp.6750 dan Rp.7750. Harga BBM Industri telah naik lebih dahulu pada tanggal 01 Desember 2007 kemarin sekitar 14,6 – 21,6 % dari harga sebelumnya. Makin berat saja hidup ini L. Bagaimana nih mas-mas dan mbak-mbak Kastrat,apa yang harus kita lakukan ? Masak harus menunggu setelah sekjen menikah he..he?

Budi W.Mahardhika
Bendum Kammda (2004-2006)
mahardhika@snfconsulting.com

Nasehat Bermakna

"Dunia itu manis lagi hijau. Siapa yang memperoleh harta dari usaha halalnya lalu membelanjakannya sesuai dengan hak-haknya, maka Allah akan memberinya pahala dari nafkahnya itu, dan Dia akan memasukkannya ke dalam surga-Nya. Siapa yang memperoleh hartanya dari jalan haram lalu ia membelanjakannya bukan pada hak-haknya, maka Allah akan menjerumuskannya ke dalam tempat yang menghinakan (neraka). Banyak orang yang dititipi harta Allah dan Rasul-Nya kelak di hari kiamat mendapat siksa api neraka." (HR, al-Baihaqi)