Penulis: Iman Supriyono
Penerbit: SNF Consulting, Surabaya
( www.snfconsulting.com )
Cetakan: I, Mei 2008
Tebal : 264 Halaman
—–
Sangat banyak di negeri ini orang yang sesungguhnya pantas
disebut sebagai orang goblok, tetapi tidak pernah mau untuk mengakui
kegoblokannya. Apalagi sampai dengan menyadari bahwa dirinya
benar-benar goblok. Mengapa demikian? Memang sangat memerahkan telinga
–dan pasti ingin melakukan tindakan-tindakan yang benar-benar
”goblok”– apabila ada yang menyematkan identitas pada diri dengan
panggilan ”orang goblok”.
Meskipun demikian, di balik sangat banyaknya orang goblok yang emoh
disebut sebagai orang goblok, masih ada sebagian kecil orang yang sudi
untuk mengakui dan menyadari bahwa dirinya memang goblok. Bahkan mereka
tampak enjoy untuk menyebut dan disebut sebagai orang goblok.
Mengapa pula demikian? Karena dengan memproklamasikan diri sebagai
”orang goblok”, mereka mampu melapangkan jalan kesempatan yang luas
dan panjang untuk selalu belajar dan belajar.
Salah satu manusialangka yang tidak malu untuk mendeklarasikan diri sebagai ”orang
goblok” adalah Iman Supriyono (dan gurunya, Abdul Rachim). Dengan
kesadarannya yang sangat dalam sebagai orang goblok, akhirnya buku Guru Goblok Ketemu Murid Goblok ini pun lahir. Hebatnya lagi, buku Iman Supriyono yang (merasa) goblok ini merupakan karya buku ke-7. Hebat kan,
orang goblok bisa menulis buku, sampai tujuh lagi. Padahal yang selama
ini mengaku ”pinter” saja banyak yang tidak mampu menggoreskan satu
pun kalimat bermakna, dan selalu marah kalau dipanggil ”goblok”.
Tapi Iman Supriyono dan gurunya bukanlah orang ”goblok” yang sembarang
goblok. Mereka adalah jenis manusia ”goblok” khusus. Menurutnya,
kegoblokan manusia itu dapat dipilah menjadi tiga tingkatan. Yakni,
orang goblok yang masih menyadari bahwa dirinya goblok. Goblok tingkat
pertama ini bahkan menurut Iman Supriyono merupakan goblok yang
disarankan. Seseorang boleh saja (dan bahkan harus) merasa goblok.
Syaratnya, masih menyadari bahwa dirinya goblok dan kemudian mau
belajar terus. Bahkan setiap saat kita harus merasa goblok. Maksudnya?
Setiap saat merasa ada sesuatu yang kita ingin bisa tetapi belum bisa.
Tindak lanjutnya dengan belajar hingga bisa. Begitu bisa, segera
temukan apa lagi yang belum bisa. Temukan satu kegoblokan lagi.
Demikian seterusnya. Selalu goblok (hlm. 83). Inilah yang disebut
sebagai ”goblok dinamis" atau goblok yang beruntung.
Sedangkan tingkatan kedua,orang goblok yang tidak menyadari bahwa dirinya goblok. Orang goblokjenis ini tidak akan pernah berkembang (stagnan). Inilah yang juga bisa
disebut dengan ”goblok statis”, karena membiarkan diri untuk tetap
goblok dalam satu hal selamanya.
Dan, tingkatan ketiga, orang goblok yang tidak merasa dirinya goblok dan bahkan suka
menggoblok-goblokkan orang lain. Inilah jenis manusia yang terjangkiti
penyakit goblok total, goblok sempurna, goblok absolut. Orang goblok
absolut ini bila dinasehati tentang kegoblokannya, serta merta ia
menolak. Bahkan merasa dirinya lebih pintar dari orang yang
menasehatinya. Inilah jenis manusia yang merasa pintar padahal goblok.
Karena itu, Iman Supriyono mewanti-wanti agar kita tidak termasuk
golongan orang yang goblok jenis ini. Bahaya !!! (hlm. 84).
Tetapi,
untuk menjadi ”goblok dinamis” pun membutuhkan kecerdasan yang
berlipat. Untuk belajar menumbuhkan kesadaran sebagai orang goblok,
dibutuhkan seorang guru yang bisa mendidik untuk bisa merasa goblok.
Nah, guru jenis ini pun ternyata juga sangat langka. Sebab yang banyak
ialah guru yang menuntut muridnya pintar dan cenderung menyisihkan
murid yang bergaya goblok. Sang guru kerapkali juga tidak mau
dikalahkan oleh muridnya, sehingga dia sendiri pun kemudian menjadi sok pintar dan keminter.
Karena itulah, Iman Supriyono pantas merasa bersyukur karena bisa bertemu dan
mendapatkan guru yang sudi mendidiknya untuk bisa merasa goblok. Lebih
dari itu, Pak Rohim –yang diklaimnya sebagai guru (dalam buku ini)–
rela untuk menggoblokkan dirinya yang tidak pernah bosan untuk mendidik
dan bahkan memberi kepercayaan terhadap murid-muridnya yang goblok.
Dengan tempaan guru gobloknya, akhirnya Iman Supriyono yang saat ini merupakan
konsultan senior di SNF Consulting tidak pernah berhenti untuk terus
merasa goblok. Salah satu bukti kesadaran akan kegoblokan dirinya ialah
tentang mimpinya untuk bisa membuat kantor konsultan yang bisa
dipercaya perusahaan-perusahaan kelas dunia. Akan tetapi hingga saat
ini belum tercapai. Belum bisa. Goblok. Dan, karena itu, ia tidak akan
pernah berhenti untuk mengentaskan diri dari ambisi goblok tersebut
hingga mimpinya jadi kenyataan.
Memperhatikan semangat Iman Supriyono yang meledak-ledak untuk membakar jiwa entrepreneur dan investor ini, maka kehadiran buku perlu menjadi pegangan wajib bagi mereka yang ingin melepaskan diri dari kegoblokan statis dan bahkan kegoblokan
absolut. Bahkan tidak hanya bagi mereka yang sedang ingin mengembangkan
usaha bisnis jasa saja, tetapi juga para pendidik (guru dan dosen) yang
selalu merasa sok lebih pandai dari murid atau mahasiswanya.
Teladan Pak Rohim –yang selalu merasa sebagai guru goblok– perlu
diwarisi para pemegang kunci gerbang dunia akademis.
Ada banyak kelebihan dari buku ini. Bahasa yang digunakan sangat mengalir dan enak
untuk dibaca –saya seperti sedang membaca sebuah novel. Selain itu,
sentilan-sentilan pedas tidak justru membuat kita marah dan menutup
buku. Tapi sebaliknya, justru kian bernafsu untuk menuntaskannya. Tidak
ada kata lain untuk memuaskan rasa penasaran di balik judul buku yang
terkesan ”melecehkan” itu, kecuali membaca isinya. Karena hanya
orang-orang goblok absolut saja yang pasti enggan untuk menikmati buku
ini. (*)
Abd. Sidiq Notonegoro, pengajar di Universitas Muhammadiyah Gresik
Musibah datang silih berganti seakan-akan tidak ada henti-hentinya belum satu musibah selesai datang lagi musibah berikutnya seperti pepatah bilang “Lepas dari mulut buaya, masuk ke mulut harimau”. Belum lagi, masyarakat harus menghadapi harga-harga yang mulai merangkak naik dimulai dari naiknya 9 bahan pokok, biaya kesehatan, biaya pendidikan dan yang terakhir gonjang-ganjing akan naiknya BBM yang diakibatkan karena harga minyak dunia yang melonjak. Kita bermain pepatah lagi “Sudah jatuh di timpa tangga terus di tiban batako, batu kepek terus sekalian rumahnya nibanin pemiliknya” itulah nasib dari bangsa Indonesia.
Apakah kita harus menyalahkan pemerintah? Di alam modern ini, peran pemerintah memang harus menjadi semakin kecil karena masyarakat sudah mampu mengurus dirinya sendiri. Acap kali kita mengecilkan peran dan kemampuan swadaya masyarakat, lalu menyerahkan urusan-urusan yang sebetulnya urusan kita kepada pemerintah. Sangat mungkin jadi kesalahannya terletak pada diri kita sendiri. Kita mengharap terlalu banyak dari pemerintah dan kaum elit politik, serta tidak melakukan apa-apa terhadap diri kita sendiri. Kita terlalu pasrah menunggu sampai pemerintah mengubah nasib kita. Kalau pemerintah yang sekarang belum mampu, mungkin pemerintah yang akan datang bakal mampu mengubah nasib kita. Lha, bagaimana kalau tidak ?
Jangan bermimpi, Saudaraku. Rebut kembali nasib Anda. Be your best! Tuntut dirimu sendiri menjadi yang terbaik. Kerja keras dan kembangkan dirimu menjadi yang paling unggul. Jangan tunggu orang lain mengubah nasibmu. Nasib kita hanya ditentukan oleh diri kita sendiri, seberapa hebat kita tampil di kancah persaingan. Jangan tunggu pemerintah memperbaiki sistem pendidikan karena kita berkemampuan mendidik diri kita sendiri. Jangan tunggu pemerintah membasmi korupsi karena kita sendiri dapat mulai menjadi sel antikorupsi dan yang terakhir jangan menunggu bantuan/sumbangan dari pemerintah padahal kita mampu untuk memberi bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Jadilah lilin di tengah kegelapan. Jadilah lilin yang mencerahkan. Biarlah angin dan badai berembus, asal kita mampu terus menyala. Karena, kalau kita tidak menyala, kita akan mati.
Buktikan merahmu Saudaraku… Biarlah Allah SWT saja yang melihat dan menilai pekerjaan kita, bukan yang lain.
Selamat Tahun Baru Hijriyah 1 Muharram 1429, wahai saudaraku. Semoga di tahun 1429 H nanti, kita di mudahkan oleh Allah untuk mengemban amanah yang diberikannya-Nya dengan kualitas terbaik dan saya juga mengucapkan selamat kepada Akhuna Heri sebagai Ketumda yang baru semoga KAMMDA Surabaya jauh lebih baik dan jauh bermanfaat bagi masyarakat dan dakwah Islam ke depan. Selamat Berjuang!!!
Budi W. Mahardhika
mahardhika@snfconsulting.com
Kejawan Gebang, 05 Januari 2008
Bagaimana dengan bangsa Indonesia? Apakah kita masih mempunyai nasionalisme kebangsaan? Ataukah kita hanya berdiam diri saja dengan keadaan yang ada karena memang bukan urusan kita? Atau yang paling ekstrim kita malu sebagai bangsa Indonesia? Kita boleh berbanggga, Indonesia merupakan negeri kaya akan sumber daya alam, Indonesia merupakan negara demokrasi terbesar ketiga setelah India dan AS dan bahkan Indonesia memiliki ratusan tokoh yang telah mendapatkan gelar pahlawan nasional. Daftar ini akan menjadi lebih panjang jika kategori pahlawan kemerdekaan dan pahlawan revolusi turut dihitung. Namun, mengapa jumlah pahlawan yang banyak belum membuat negeri ini menjadi bangsa yang besar? Mengapa Indonesia belum bisa diakui sebagai bangsa besar di dunia Internasional? Bukankah dengan merayakan Hari Pahlawan setiap tahun kita telah taat terhadap pernyataan, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya.
Coba bandingkan Indonesia dengan Singapura dan Malaysia. Secara historis, kedua negara ini tak memiliki rekaman historis yang heroik saat meraih kemerdekaannya, tetapi kinerja ekonomi negeri tetangga ini jauh melampaui Indonesia. GNP per kapita Singapura 30 kali lebih besar dari Indonesia. Juga GNP per kapita Malaysia sekitar 3 kali lipat Indonesia, maka benarkah negeri dengan banyak pahlawan seperti Indonesia memiliki beban jauh lebih berat untuk menjadi bangsa yang besar? Dimanakah semangat 10 Nopember itu? Indonesia butuh pahlawan-pahlawan baru dalam bidang ekonomi. Indonesia butuh pahlawan yang dapat menggerakkan roda bisnis dan meningkatkan kinerja ekonomi. Pahlawan baru itu adalah entrepreneur/pengusaha.
Ir. Ciputra dalam Koran Bisnis Indonesia menyatakan : "Indonesia butuh banyak entrepreneur kalau ingin maju. Sekarang ini, jumlah pengusaha Indonesia hanya 0,28 % dari jumlah penduduk padahal di negara maju minimal 5 % jumlah pengusahanya. Bandingkan dengan Singapura yang mempunyai jumlah entrepreneur sekitar 8 % dari jumlah penduduk."Celakanya lagi di Indonesia mayoritas entrepreneur 70% di huni oleh keturunan Tionghoa atau non muslim. Jadi jumlah entrepreneur muslim di Indonesia hanya berjumlah 0.084% atau jumlahnya sekitar 168 ribu orang. Kalau jamaah Tarbiyah jumlahnya 1% (asumsi 2 juta orang) dari jumlah penduduk maka hanya 1680 orang se-Indonesia. Kalau anggota atau alumni KAMMI yang jadi entreprenur berapa ya? Mohon hitung sendiri he..he :p. Anda siap jadi entrepreneur? (Sumber : Kompas dan Bisnis Indonesia)
Budi W.Mahardhika
Bendum KAMMDA Surabaya (2004-2006)
mahardhika@snfconsulting.com
Ternyata memang terbukti apa yang kami sampaikan pada surat yang
lalu, bahwa Dakwah sedang berada dalam kondisi yang kurang baik, dan
antum semua,kami yakin, juga dapat merasakannya. Maka Ikhwah, tetaplah
bergerak, berbuatlah sesuatu, perbaikilah……
Ya Ikhwah, Ada tidaknya seorang anda, tidak akan mempengaruhi
pergerakan ini. Pergerakan ini akan tetap terus ada, dengan atau tanpa
seorang anda. Maka, andalah yang membutuhkan pergerakan ini. Andalah
yang akan menghirup udaranya, merasakan sejuknya dan hidup dengannya.
Bergeraklah karena Allah, bergeraklah dan bergeraklah. Hingga
butir-butir keringatmu menjadi izzah yang bersinar, hingga derap
langkahmu menggetarkan hati manusia di sekitar, hingga air matamu
menjadikan bukti hati ikhlasmu.
Perjuangan ini tidak murah, perjuangan ini juga tidak mudah.
Hentakkan kakimu wahai ikhwah, hentakkan hingga bumi Islam merasakan
hangatnya fajar kemenangan.
Selalulah ingat, bahwa Pergerakan kita adalah pergerakan simpatik,
pergerakan yang menyentuh hati, yang menebarkan bunga kedamaian. Tidak
berarti tanpa kobar dan semangat perjuangan, tetaplah ia sebagai jalan
jihad yang indah meski penuh rintangan.
Wallahu’alam bishowab wastagfirullahil adzim.
ALLAHU AKBAR…!!!
From : Fitra Saleh FE UNS ( Galas 2000 )
Thanks bro, atas semangatnya :) Bagaimana kabar jundi kecilmu ? Sudah umur berapa ? Keep fight bro !!
December 9th, 2006
“Kadang ke Kufah, kadang ke Bashrah, kadang ke Hijaz, dan kadang ke Yaman. Sampai kapan?”
“Bersama
mihbarah (wadah tinta) sampai ke maqbarah (kuburan),” jawab Imam Ahmad
bin Hanbal saat ditanya tentang kegigihannya dalam menuntut ilmu.
***
Setelah membaca buku Riwayat Sembilan Imam Fikih, aku berkata
dalam hati, bahwa aku adalah orang besar. Dan kebesaranku dimulai dari
apa yang telah kutulis selama ini. Tulisan-tulisanku merupakan bentuk
lain dari perasaan, kemarahan dan kebencianku akan suatu hal.
Aku
berpikir bahwa aku adalah orang besar yang kelak akan memikul amanah
dakwah dan ummah. Tapi tiba-tiba hati kecilku bertanya,
“Perangkat-perangkat apa saja yang telah engkau miliki dan jalan apa
saja yang telah engkau tempuh untuk mendapatkannya?” Aku menjawab, “Aku
belum punya apa-apa selain keinginanku yang menggebu-gebu.” Hati
kecilku kembali berkata, “Aku tahu itu, tetapi itu belumlah cukup.
Keinginan itu harus diiringi dengan pelaksanaan yang baik dan
konsisten. Engkau harus menjalankannya dengan sungguh-sungguh dan tidak
setengah-setengah, atau engkau tidak akan pernah mencapainya. Selama
ini aku perhatikan engkau tidak menjalankannya dengan teguh. Engkau
lemah oleh bujuk rayu setan dan kemudian menjerumuskanmu pada pelbagai
bentuk kemaksiatan. Walaupun pada akhirnya engkau mengakui kesalahanmu
itu. Engkau harus kuat. Engkau harus sabar. Bergaullah dengan
orang-orang yang shalih karena mereka akan menjaga dan membimbingmu.
Takutlah akan azab-Nya yang pedih dikala engkau seorang diri. Tutuplah
rapat-rapat mulutmu dari perkataan dusta. Pergunakanlah harta bendamu
untuk tujuan yang mulia. Jauhilah sumber-sumber fitnah. Banyaklah
menuntut ilmu dan merenungkannya. Tepati janji yang pernah engkau
ucapkan. Dan rajin-rajinlah mendekatkan diri kepada Allah.”
Nasihat
yang baik. Hati kecilku berkata benar karena ia tak pernah berdusta.
Menjadi orang besar bukan perkara mudah, pikirku. Menjadi orang besar
berarti mempertaruhkan seluruh kehidupan untuk menggapai apa yang
dicita-citakan. Ini tentu saja akan menyedot dan menguras seluruh
energi, pikiran, tenaga, dan waktu. Aku pikir, betapa hebat dan
mulianya orang-orang besar itu karena mereka telah menang dan kembali
dengan jiwa yang tenang. Benarlah apa yang dikatakan seorang ulama,
janganlah engkau hanya melihat kesuksesan seseorang, tetapi lihatlah
proses mereka meraih kesuksesan itu.
Dari sembilan imam fikih
yang kubaca sejarahnya, tak satupun yang tidak pernah mendapat ujian
dan cobaan; dipenjara, diasingkan dan disiksa. Bahkan Imam Zaid bin Ali
dibunuh dan mayatnya disalib di tempat umum. Untuk menjadi orang besar,
mereka harus mempertaruhkan apa yang mereka punya termasuk diri mereka
sendiri. Mereka tidak terikat pada suatu apa pun kecuali hanya kepada
Allah dan Rasul-Nya. Jika ada perkataan mereka tidak sesuai dengan
ketentuan Allah dan Rasul-Nya, mereka menyuruh kita agar
meninggalkannya. Mereka tidak merasa malu mengatakan “saya tidak tahu”,
sekalipun ilmu mereka luas dan kepakaran mereka tak tertandingi. Sejak
kecil mereka sudah gigih menuntut ilmu dan merenungkan
kejadian-kejadian yang ada disekelilingnya sehingga hati menjadi peka
terhadap problematika umat. Tidak heran jika mereka mampu menghafal
al-Quran sejak usia 10 tahun, 9 tahun, atau bahkan kurang dari itu.
Bandingkan dengan keadaan kita saat ini, di usia yang kepala dua, tiga,
atau bahkan lebih dari itu, kita belum mampu menghafalnya dengan
sempurna. Pada usia dini pula, mereka telah mampu menghafal hadits dan
buku-buku karangan guru mereka. Semangat dan etos kerja yang telah
tertanam sejak kecil, ditambah dengan lingkungan yang kondusif
(lingkungan para alimin dan shalihin), setahap demi setahap cita-cita mereka raih.
Namun,
bagi kita, perjuangan belum terlambat untuk terus kita kumandangkan.
Dengan segala apa yang ada pada diri kita dan dengan semangat yang kita
kobarkan dan dengan amal yang kita kerjakan dengan sungguh-sungguh,
demi Allah, semua itu tidaklah sia-sia. Kita harus bangkit dari
keterpurukan dan kemalasan ini. Kita harus raih kemuliaan sebelum ajal
datang menjemput. Al-Khawarizmi, seorang ahli matematika tersohor dan
penemu ilmu aljabar, ternyata baru belajar matematika ketika berusia 24
tahun. Sebelumnya dia adalah pemuda pengangguran yang senang bermain
musik. Tapi dia sadar, bahwa apa yang dilakukannya itu adalah
kesia-siaan dan kelalaian. Kemudian dia beralih dan mengerjakan
pekerjaan yang jauh lebih bermanfaat. Usia bukanlah penghalang untuk
meraih apa yang dicita-citakannya. Kelak beliau dikenal sebagai sosok
yang menguasai banyak ilmu pengetahuan mulai dari fisika, kimia,
astronomi, filsafat, matematika, dan tentu saja pandai memainkan alat
musik.
Imam Bukhari biasa bangun dari tidur, lalu menyalahkan
lampu dan menuliskan faedah suatu hadits yang terlintas dalam
pikirannya, kemudian tidur lagi dan kembali bangun hingga beliau dalam
sebagian malam melakukan perbuatan ini sampai 20 kali.
Imam Abul
Wafa bin Aqil al-Hanbali berkata, “Tak halal bagiku menyia-nyiakan
sejam pun dari umurku. Sampai-sampai bila lidahku sudah tak mampu untuk
bertutur kata, dan penglihatanku tak bisa membaca, aku tetap
menjalankan daya pikirku meskipun aku berbaring istirahat. Sehingga aku
tak akan bangkit kecuali telah terlintas dalam pikiranku apa yang akan
kutulis. Pada umur 80 tahun aku amat gemar kepada ilmu, yang tak
kualami ketika aku masih berumur 20 tahunan.”
Imam Ibnul Qayyim
al-Jauziyah berkata, “Saya kenal seseorang yang sedang sakit demam dan
sakit kepala, sedang kitab yang dibacanya tetap berada di atas
kepalanya. Apabila sedang siuman maka ia membacanya dan apabila sedang
sakit yang sangat, maka ditaruhnya kitab itu di atas kepalanya. Di
suatu hari tabib memeriksa sakitnya itu, sedang ia dalam keadaan
sedemikian itu, lalu tabib itu berkata, ‘Sungguh tuan jangan melakukan
hal ini (membaca), karena akan membahayakan ketahanan tubuh tuan dan
dapat berakibat lebih fatal lagi’.”
Syaikh Abdul Adzim bercerita
tentang Ishak bin Ibrahim al-Muradi, sebagaimana penuturannya, “Saya
belum pernah melihat dan mendengar orang yang lebih banyak kesibukannya
sepanjang siang hingga larut malam. Saya bertetangga dengan beliau,
rumah beliau dibangun setelah 12 tahun rumahku berdiri. Setiap kali
saya terjaga di keheningan malam, selalu terbias sinar lentera dari
dalam rumahnya, dan beliau sedang sibuk dengan pencarian ilmu; bahkan
sewaktu makan beliau selingi pula dengan membaca kitab-kitab.”
Menjelang
wafat Imam ath-Thabari, Ja’far bin Muhammad memanjatkan doa untuknya.
Ath-Thabari kemudian meminta tempat tinta dan selembar kertas dan
menulis doa itu. Dia ditanya, “Apa arti semua ini?” Maka dia menjawab,
“Sepantasnyalah bagi seorang untuk memungut ilmu hingga menjelang
kematiannya.” Beberapa saat kemudian beliau wafat.
Imam al-Izz Izzuddin Abdussalam meninggal dunia pada usia 83 tahun pada saat beliau sedang berusaha menafsirkan ayat al-Quran, “Allahu nuurus samawati wal ardh” di hadapan murid-muridnya. Achdiat K. Miharja penulis novel Atheis, mampu menulis novel setebal 219 berjudul Manifesto Khalifatullah pada saat berusia 94 tahun.
Merekalah
orang-orang yang tidak terhalang oleh waktu dan peristiwa. Bagi mereka,
menuntut ilmu dan mengajarkannya kepada orang banyak adalah keutamaan
yang besar dan harus mereka jalani hingga maut datang menjemput. Tidak
ada kata terlambat untuk menuntut ilmu, berkarya dan meraih prestasi.
Berhenti berarti kalah! Karena orang yang berhenti sama saja dengan
orang yang mati.
seruling_daud@yahoo.com http://penulis-muda.blogdrive.com
February 5th, 2007
(How Much Land Does a Man Want/Leo Tolstoy/Priharto-Bobo No. 50/XXVIII)
"Aku bosan miskin," kata Pahom pada suatu hari.
Istri dan anak-anaknya tertawa.
"Aku ingin kaya. Aku ingin punya tanah yang lebih luas. Juga ternak yang lebih banyak. Tidak seperti sekarang, hanya cukup untuk makan keluarga kita saja," lanjut Pahom.
"Kalau begitu, bekerjalah lebih rajin. Aku dengar, tetangga kita yang kaya itu akan menjual tanahnya," kata istri Pahom.
Pahom ingin, ingin sekali, membeli tanah itu. Dia berpikir keras bagaimana caranya.
"Kita beli saja tanah itu. Caranya, kita jual semua sapi kita. Uangnya kita belikan tanah itu," kata Pahom dengan suara sangat gembira keesokan harinya.
Pahom lalu menjual semua ternaknya dan membeli tanah itu. Sekarang tanahnya lebih luas dari yang dimiliki sebelumnya. Dia pun bekerja lebih keras mengolah tanahnya. Hasilnya menakjubkan. Panennya melimpah. Uang hasil panennya kembali dibelikan tanah sehingga tanah Pahom makin luas. Pahom juga membeli ternak.
Pahom kemudian membagi dua tanahnya. Sebagian untuk tanah pertanian, sebagian lagi untu tempat merumput ternaknya. Masalah mulai timbul ketika sapi-sapi tetangga Pahom ikut merumput di tanah peternakannya. Karena kesal, Pahom memagari seluruh tanahnya. Dasar binatang, meskipun sudah di pagar, tetap saja sapi-sapi itu merumput di tanah Pahom. Pagar yang dibuat Pahom sia-sia saja. Dengan mudah sapi-sapi itu merubuhkannya.
Pahom mengadukan kekesalannya kepada hakim setempat. Hakim lalu menyuruh para pemilik sapi itu membayar denda akibat perusakan pagar oleh sapi-sapi mereka. Hal itu membuat tetangga-tetangga tidak senang pada Pahom.
"Sombong sekali dia sekarang."
Pahom tidak peduli.
Tetangga semakin membenci.
Akhirnya Pahom memutuskan pergi.
Pahom dan keluarganya pindah ke tempat yang jauh dari desa asalnya. Penduduk di tempat itu masih sedikit sehingga harga tanah masih sangat murah. Karenanya, Pahom bisa membeli tanah yang lebih luas dari yang dimilikinya sebelumnya.
"Betapa senangnya kalau tanahku lebih luas lagi," katanya pada anak dan istrinya.
Pada suatu hari ada orang memberi tahu tentang tanah yang subur dan murah harganya.
"Tapi tempatnya agah jauh," kata orang itu.
"Sejauh apa pun akan kudatangi," jawab Pahom.
Lalu, dengan membawa uang yang banyak dan bekal yang cukup Pahom pun pergi ke tempat itu, negeri Bashkir namanya. Ternyata, tanahnya memang subur. Dan harganya pun murah, murah sekali.
"Dengan uang sebanyak ini kau boleh membali tanah seluas kau suka," kata orang yang rupanya menjadi semacam kepala suku di tempat itu.
Pahom diberi waktu satu hari penuh untuk menentukan luas tanah yang akan dimilikinya. Caranya, Pahom harus menancapkan sejumlah patok dengan membentuk bidang segi empat di atas tanah seluas dia suka. Dimulai dari tempatnya berdiri sekarang dan berakhir di tempat yang sama.
"Ingat, waktumu hanya satu hari. Sebelum matahari terbenam, kau harus sudah di sini lagi. Kalau tidak, maka kau tak akan mendapat apa-apa. Dan uangmu tak kembali. Sekarang, kau boleh mulai pekerjaanmu. Kami akan menunggumu di atas bukit ini," kata Sang Kepala Suku.
"Baik," sahut Pahom.
Pahom pun mulai menancapkan patok pertamanya. Karena waktu yang dimilikinya cukup banyak, Pahom merasa tidak perlu buru-buru. Setelah sadar bahwa dengan cara itu tanah yang diperolehnya tidak akan luas, Pahom mulai mempercepat lagkahnya. Kadang-kadang Pahom berlari. Pada jarak yang sudah cukup jauh dari patok pertama, Pahom menancapkan patok keduanya. Setelah itu bergegas lagi, setengah berlari untuk mencapkan patok berikutnya. Begitu seterusnya. Entah sudah berapa patok ditancapkannya. Jarak antara Pahom dan Kepala Suku beserta anak buahnya kini sudah begitu jauh sehingga mereka kelihatan begitu kecil.
Matahari kian tergelincir ke barat, pertanda hari semakin sore. Pahom seperti disadarkan bahwa waktu yang dimiliki tak banyak lagi. Dia pun berlari ke arah bukit tempat sang kepala suku beserta anak buahnya menunggu. Dia berlari, berlari, dan berlari. Pahom berlari lebih kencang dari sebelumnya.
"Ayo, cepat! Atau kau akan kehilangan uangmu!" begitu teriak orang-oang di atas bukit yang menunggunya.
Pahom mempercepat larinya. Jaraknya masih agah jauh dari bukit yang ditujunya. Hari makin sore.
Pahom cemas. Dia semakin mempercepat larinya.
Tinggal beberapa belas meter lagi.
Engahan nafas Pahom mulai terdengar jelas.
Kini tinggal beberapa meter lagi.
Tiba-tiba orang-orang memekik.
Pahom jatuh tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Orang-orang pun gaduh ketika Pahom ternyata tak bangun lagi. Mati. Sang Kepala Suku lalu menghampiri tubuh Pahom, kemudian membuat lingkaran yang sedikit lebih besar dari tubuh yang sudah tak bernyawa itu.
"Kuburkan dia di sini. Inilah tanah penghabisan yang bisa dia miliki. Orang mati tak membutuhkan tanah yang lebih luas dari ini." *****
September 5th, 2006
"Dunia itu manis lagi hijau. Siapa yang memperoleh harta dari usaha halalnya lalu membelanjakannya sesuai dengan hak-haknya, maka Allah akan memberinya pahala dari nafkahnya itu, dan Dia akan memasukkannya ke dalam surga-Nya. Siapa yang memperoleh hartanya dari jalan haram lalu ia membelanjakannya bukan pada hak-haknya, maka Allah akan menjerumuskannya ke dalam tempat yang menghinakan (neraka). Banyak orang yang dititipi harta Allah dan Rasul-Nya kelak di hari kiamat mendapat siksa api neraka." (HR, al-Baihaqi)
