Tampilkan postingan dengan label Keuangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keuangan. Tampilkan semua postingan

Visi Menabung

Jika Anda ingin sungguh-sungguh kaya, Anda harus menabung 15 persen dari penghasilan Anda.
David Bach (penasihat keuangan, penulis buku “Smart Couples Finish Rich”)

Anda  wajib membayar 5-30 persen dari penghasilan Anda kepada pemerintah, dalam bentuk pajak penghasilan (PPh) atau income tax. Mengapa Anda tidak bersedia untuk menyimpan dalam persentase yang sama untuk diri sendiri? Orang miskin dan kelas menengah terjerat kebutuhan dan keinginannya sendiri, sehingga tidak mampu menyisihkan 15 persen. Itulah yang membedakan mereka dengan miliarder.

Bagaimana dengan perusahaan yang bagus ? Perusahaan yang mempunyai pertumbuhan tinggi atau HGE (High Growth Enterprise) adalah perusahaan yang mempunyai pertumbuhan laba minimal 20% dari nilai omset atau kita bisa melihat dari rasio keuangan NPM (Net Profit Margin)-nya minimal 20%. Makin tinggi pertumbuhan, makin tinggi penjualan dan makin efisien maka akan semakin bagus asal tidak mengurangi fungsi dan kualitas.

Laba bersih yang ditahan (Minimal 20%) atau sisa gaji (minimal 15%) tersebut akan dialokasikan untuk RD (Revenue Driver), pembelian aset untuk pemicu omset bukan untuk pembeliaan barang2 konsumtif. 

Bagaimana dengan Anda atau perusahaan Anda yang selalu kehabisan uang? Tidak ada laba atau sisa gaji bahkan mengalami kerugian. Itu bukan berarti Anda tidak memiliki cukup uang. Melainkan, Anda tidak memiliki cita-cita yang cukup besar untuk membuat Anda menyisihkan uang. Jika Anda memiliki keinginan yang besar untuk dikejar, Anda tidak akan banyak membuang uang hasil kerja keras Anda hanya untuk membeli barang2 konsumtif.

Berhentilah sejenak untuk merenung tentang keinginan, impian, cita dan visi Anda. Mulailah dengan memiliki tujuan / visi. Sudahkah teman2 alumni FL sudah memiliki visi ? 
Selamat morning, tetap semangat ! 

Budi Wahyu Mahardhika – SNF Consulting

Hanya orang menaburlah yang akan menuai

B. C. Forbes (Pendiri majalah Forbes)

Uang ibarat bulir-bulir padi, dan sawah ibarat lahan investasi. 
Bila anda menaburkannya di lahan yang subur dan digarap dengan baik, maka Anda akan memetik penen berlipat ganda. 

Bila Anda tidak menaburkannya, Anda tidak akan menuai. Bila Anda mengkonsumsinya, ia akan segera habis. 

Begitu pula bila Anda salah memilih lahan, bulir-bulir padi Anda akan mengering dan hilang sia-sia.
Uang sebagai modal selanjutnya bisa didapatkan dari pengusaha yang berhasil mendapatkan laba ditahan dan melakukan kerjasama. Jika yakin terhadap bisnis-nya, pengusaha bisa juga mencari pembiayaan yang murah untuk digunakan investasi. 

Bagaimana dengan lahan investasi dan kemampuan menggarap ? Tidak ada yang instan. Butuh keseriusan belajar, pengalaman dan jam terbang.  Kembali ke kemampuan pengusaha-nya dalam meningkatkan nilai tambah. 

Anda pengusaha ? Opportunity Cost Anda ? Target tahun ini, laba mau naik berapa % dari tahun lalu ? Ayo fokus.. alumni FL, Bisa !

Budi Wahyu Mahardhika – SNF Consulting

Sekilas Buku "Your Financial Road Map"



Apa itu “Road Map” ?

Road Map apakah itu? Road Map adalah peta jalan atau bisa juga acuan untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan dalam hal ini adalah kekayaan. Ya, acuan, kita harus menentukan acuan untuk berjalan selangkah demi selangkah dalam setiap pembelajaran.
Setiap praktisi bisnis dan keuangan mempunyai pandangan yang berbeda dalam hal menentukan acuan ini tapi Saya mengambil kesimpulan dari berbagai sumber, paling tidak ada 8 hal acuan untuk meraih kekayaan yang kita impikan.

Kedelapan Road Map itu, yaitu :

1. Mindset,
Yup, sekali lagi soal mindset. Ini adalah sumber dari semua cara berpikir dan pola tindakan kita. Ini harus diberesin dulu, jika tidak dibereskan maka hasilnya kurang maksimal.
Orang yang sudah take action, tapi gagal terus, biasanya gara-gara salah di mindset ini.
Contoh Mindset yang salah :

"Buat apa mengejar-ngejar kekayaan. Kekayaan tidak menjamin hidup bahagia, kekayaan tidak menjamin masuk surga"
Apa lagi ini... Anda lahir pada bla3x, Anda tidak cocok kerja di air, Anda seharusnya cocok kerja di hutan he3x

2. Goals.
Ya, kita harus punya tujuan yang jelas. Tentukan goals yang jelas. Kalau tidak ada goals yang jelas bisa jadi kita kehilangan arah dalam mencapainya.
Masih ingat cerita doa bangun sepagi mungkin? cerita ini menjelaskan bagaimana kita harus menentukan tujuan secara jelas dan detail
tentang keinginan kita.
Jika kita ingin berdoa agar dibangunkan pagi hari jam 4 maka doa seharusnya adalah ya Allah bangunkanlah aku jam 4 bukannya ya Allah bangunkanlah aku sepagi mungkin.

Nanti bangkong lo.. kan jadi repot J

3. Financial Plan.
Setelah goals-nya jelas, maka diperlukan perencanaan keuangan yang baik agar tujuan kita bisa tercapai.
Perencanaan keuangan adalah alat bantu untuk mencapai tujuan tapi yang terpenting adalah pelaksanaannya jika tidak dilaksanakan maka akan mubazir. ( Penulis gak dapat pahala, pembaca juga gak jadi kaya he…he ).
Nah, di buku ini juga akan dijelaskan secara detail dan  sederhana  tentang  bagaimana  memper-gunakan alat ini.

4. Debt Management.  
Buku ini juga mengajarkan manajemen hutang agar orang-orang yang bermasalah dengan hutang dapat mengeliminasi hutang-hutang yang merugikan mereka secepat mungkin. Daripada uang habis buat bayar bunga hutang, lebih baik untuk investasi!

5. Eficiency & Grow.
Ini juga harus dilakukan. Jangan hanya memperbesar income tapi boros dan akhirnya bangkrut juga. Di sini kita diharuskan untuk selalu berusaha menekan pengeluaran. Live below your mean, hidup sederhana. Hidup sederhana berbeda lho dengan hidup miskin. It's defferent baybeh !
Inti efisiensi adalah gaya hidup hemat tanpa mengorbankan pengeluaran  yang memang diperlu-kan.  Tetapi   juga  harus   bisa   menikmati  hidup,  menurut saya.
Kalau sudah terkumpul uangnya, harus direncanakan pertumbuhannya. Grow hanya bisa dilakukan dengan investasi. Ilmu mengenai investasi dan bagaimana mengalokasikannya juga Anda dapatkan dalam buku ini pada bab 5.

6. Increase Income.
Ini yang menarik. Bagaimana meningkatkan omzet dan profit bisnis secara mudah dan sederhana bagi pengusaha. Bagi pekerja,  bagaimana  mendapatkan pemasukan lebih besar dari sebelumnya? Bukan melalui demo lho...

7. Protect.
Aset kita harus aman. Caranya? Bisa lewat asuransi, bantuan hukum, jasa pengelola aset dan sebagainya. Banyak lho, orang yang pintar mengumpulkan tapi tidak diprotect. Akhirnya amblas begitu aja. Bila itu terjadi maka pada masa pensiun kita akan gigit jari. Bukannya begitu?

8. Spiritual Finance.
Shodaqoh, zakat, infaq adalah investasi dunia akhirat dengan tingkat pengembalian yang tidak terhitung jumlahnya. The Power of Giving (kekuatan untuk memberi) ini adalah syarat sah untuk menjadi orang kaya. Bila ingin kaya, jangan lupa ilmu yang satu ini.
Spiritual finance juga membahas bagaimana kekayaan itu didapatkan. Tentu saja kekayaan yang berkah bukan kekayaan asal sikat. Mau kasih makan keluarga dengan hasil haram ? ngga mau kan!


Penulis
Budi Wahyu Mahardhika


Menetapkan Tujuan & Definisi Kekayaan



Kaya harus didefinisikan dengan jelas sehingga kita mudah dalam menetapkan tujuan dalam meraih visi finansial. Menurut Anda, apakah definisi kaya harta itu? apakah kaya harta itu = kelimpahan materi? Seperti punya rumah besar, mobil F1, jam keren, hp canggih dan motor GP.  Kenyataannya tidak, hal itu tidak sepenuhnya benar.  Lalu yang seperti apa baru disebut kaya harta?" secara sederhana, orang yang kaya harta adalah orang yang pendapatannya lebih besar dari pada pengeluarannya.
Apakah benar sesederhana itu ? tentu saja tidak, itu hanya dasar untuk meraih  kekayaan. Kita harus bisa menyisihkan pendapatan kita minimal 10% dari pendapatan kita.  Setelah itu duit yang kita sisihkan lalu ditabung di bank agar aman. Apakah dengan menabung kita bisa kaya? Ya tentu saja menabung saja tidak cukup. Kemampuan menabung hanya bisa membuat kita menjadi kaya, tapi tidak kaya raya. Setelah uang tabungan Anda cukup maka langkah selanjutnya yaitu menginvestasikan hasil tabungan tersebut ke bisnis atau instrumen-instrumen keuangan yang sudah ada. Bagaimana dengan deposito? Deposito kan bunganya relatif lebih tinggi dari tabungan. Apakah deposito merupakan pilihan terbaik untuk menjadi kaya? Saya kira masih banyak pilihan investasi yang return-nya lebih tinggi dari pada deposito. Apakah Anda setuju? Hanya saja kebanyakan orang tidak dapat melihatnya. Mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan kantor mereka sehingga tidak punya tenaga lagi untuk melihat peluang-peluang yang ada di sekitarnya.
Di samping itu, terkadang orang sudah merasa puas dengan gaji mereka sehingga mereka menjadi malas mencari peluang untuk menambah penghasilan. Bila sudah malas, maka Anda akan sulit berkembang apalagi untuk menjadi kaya. Jadi teruslah mencari peluang dan tidak merasa puas atas gaji yang Anda dapatkan. Kalau gitu, arti kaya itu apa ?

1.  Robert Kiyosaki, Rich Dad Poor Dad
    
Dalam bukunya Rich Dad Poor Dad, Kiyosaki menjelaskan bahwa seseorang yang kaya adalah seseorang yang bebas secara  finansial.
Bebas secara finansial artinya ia bebas menggunakan uang miliknya, bebas untuk bekerja kapan saja diinginkan, dan paling penting, bebas dari segala kekhawatiran akan masalah keuangan dimasa depan. 

Menurut Kiyosaki, kebebasan finansial dapat dicapai dengan mememiliki aset jauh lebih besar dari liabilitas.

Dia menegaskan pentingnya mengetahui perbedaan aset dan liabilitas bila ingin kaya. Aset mengalirkan uang ke kantong Anda, dan liabilitas mengeluarkan uang dari kantong Anda. Untuk menjadi kaya, seseorang harus menemukan

aset – segala sesuatu yang memasukan uang ke kantong Anda – dan memperkecil liabilitas – segala hal yang menguras uang dari kantong Anda : rumah yang ditinggali sendiri, mobil, dan seterusnya.
 
Menariknya, Kiyosaki mengajarkan bahwa rumah yang dimiliki oleh seseorang itu bukanlah aset. Mengapa? Rumah tersebut menyebabkan pemiliknya harus mengeluarkan uang secara berkala, seperti untuk membayar pajak bumi dan bangunan, membayar biaya perawatan, ataupun tagihan-tagihan lain seperti listrik dan PAM. Walaupun nilainya dari tahun ke tahun meningkat, tetapai tidak ada pendapan riil yang didapat. Anda tidak akan menikmati peningkatan nilai tersebut kecuali Anda menjual atau menyewakan rumah Anda (yang membuatnya menjadi sesuatu yang memasukan uang ke kantong). Oleh karena itu rumah lebih tepat digolongkan sebagai liabilitas.
Selain itu, Kiyosaki juga menekankan bahwa sulit mencapai kekayaan hanya dengan bekerja bagi orang lain, pekerja – bahkan yang bergaji besar sekalipun seperti dokter, pengacara dll,  mungkin menghasilkan uang, tapi mereka tidak menemukan  sumber uang. Uang tersebut akan berhenti mengalir bila mereka berhenti bekerja. Mereka bahkan cenderung terjebak dengan apa yang disebut lomba tikus – bekerja keras, mendapat gaji lebih besar, membeli lebih banyak, tagihan lebih besar, membutuhkan utang lebih banyak, dan kembali lagi pada bekerja lebih keras. Seseorang bisa menjadi kaya bila ia dapat keluar dari lingkaran tersebut dan memasuki jalur cepat, menemukan sumber uang  – yang bisa dicapai bila memiliki pengetahuan finansial yang cukup.
Untuk pernyataan Robert T. Kiyosaki di atas ada benarnya tapi tidak sepenuhnya, jangan sampai Anda keluar dari pekerjaan yang Anda geluti saat ini tanpa persiapan yang matang. Jika iya, maka dapat dipastikan cashflow keluarga Anda biasa terganggu. Oleh karena itu fokus saja dalam mencari peluang aset yang bernilai dan jangan mudah cepat puas sebelum tujuan Anda tercapai. Kita lanjutkan…. Oke deh…

Menurut Kiyosaki, ada dua hal utama yang membedakan orang kaya dengan kelas menengah dan miskin.
Yang pertama adalah kepemilikan aset, Orang kaya membeli aset,sedang kelas menengah & miskin membeli liabilitas yang mereka anggap aset.
Perbedaan kedua adalah kontrol atas uang. Banyak orang yang memenangkan undian atau ketiban rezeki besar (seperti bonus) akhirnya kehilangan rezeki itu dalam waktu singkat. Mengapa? Untuk mengontrol uang Anda harus memiliki pengendalian emosi dan pengetahuan finansial.

Orang kaya pertama-tama berinvestasi pada diri mereka sendiri dengan mengembangkan kemampuan mengendalikan uang sebelum mulai membangun kekayaan materi.

2. Dalam buku Millionaire Next Door, Danko dan Stanley

Kaya didefinisikan sebagai kesenangan memiliki aset yang bertumbuh secara signifikan, Rumusnya adalah :        

Kekayaan bersih yang diharapkan = usia dikali penghasilan tahunan sebelum pajak (semua sumber kecuali warisan) dibagi 10

Contoh :

Pak Wahyu, yang berumur 30 tahun memiliki penghasilan tahunan mencapai 60 juta – 5 juta perbulan. Masukkan ke dalam rumus, maka akan didapat:  Kekayaan bersih yang diharapkan = 60.000.000 * 30 / 10 Kekayaan bersih yang diharapkan = 180 juta rupiah. Sayangnya, kekayaan bersih Wahyu dalam kenyataannya hanya berjumlah 120 juta rupiah. Padahal mengingat penghasilan serta usianya, ia seharusnya memiliki kekayaan bersih minimal 180 juta.
Berdasarkan rumus Dancoy dan Stanley, Pak Wahyu bisa dikatagorikan miskin karena Wahyu tidak mampu mengakumulasikan harta.  

Rule of Thumb Kekayaan Bersih :

Wealth is not how much money you have but rather how long you can survive in your life style with the money you have if you loss your income today.

Kekayaan bukanlah ditentukan oleh berapa banyak uang yang Anda miliki, tetapi ditentukan oleh berapa lama Anda dapat bertahan hidup di taraf kehidupan yang Anda jalani jika Anda kehilangan pendapatan hari ini.

Perhatikan perbandingan berikut ini :

Siapa yang lebih kaya?
Pekerjaan
Konsultan
Guru
Umur
30 Tahun
30 Tahun
Pendapatan per tahun
Rp. 120 Juta
Rp. 24 Juta
Kekayaan Bersih
Rp. 240 Juta
Rp. 120 Juta
Taksiran Kekayaan Bersih
Rp. 360 Juta
Rp. 84 Juta

Berdasarkan perbandingan diatas, guru lebih kaya daripada konsultan. Pak guru bisa mengendalikan pengeluarannya dengan bijaksana sehingga jikalau dia kehilangan pendapatannya, dia masih bisa bertahan lebih lama dari pak konsultan.

Menghitung Nilai Kekayaan Bersih

Ada 3 langkah yang dapat Anda lakukan untuk mengetahui seberapa kayakah Anda, yaitu :

  1. Mencatat semua harta yang Anda miliki.
  2. Menentukan nilai utang Anda.
  3. Hitung kekayaan bersih Anda

Apakah kekayaan bersih bisa negatif? Tentu saja bisa, jika utang Anda lebih banyak daripada harta. Jika utang Anda terlalu besar maka BANGKRUT lah Anda. Terus kalau bangkrut, apa gue harus bilang WOW gitu? He…he

Tentukan tujuan keuangan Anda sekarang !!

Tulisan merupakan nukilan dari Buku Personal Finance Road Map 

Budi Wahyu Mahardhika
Calon Penulis Buku Keuangan dan Bisnis he...he
Iklan : www.inforumahsolo.com 

10 Mitos Keuangan (Bagian Ketiga)

Seri Mind Set

10 Mitos Keuangan (Bagian Ketiga)
Oleh : Budi wahyu mahardhika*

Apakah Anda kenal dengan sahabat nabi yang bernama Abu Bakas Assidiq ra? atau Abdurrahman bin Auf ra? Mereka adalah sahabat nabi yang luar biasa dalam hal berperang dan berbisnis. Dalam hal berjihad dan berperang, Abu bakar pernah menyerahkan seluruh hartanya untuk jihad di jalan-Nya begitu pula dengan Abdurrahman bin Auf, Ia meninggalkan semua hartanya di Kota Mekah lalu hijrah ke Madinah dengan persediaan apa adanya. Tetapi kenapa Mereka tetap kaya ya? cukup hanya minta ditunjukan dimana pasar berada mereka dapat mengembalikan pundi-pundi kekayaan mereka secara cepat. Jawabannya adalah berada pada ilmu, kredibilitas dan kerja keras. Ilmu bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berbisnis dan mengelola keuangan sedangkan kredibilitas bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan kepada masyarakat dan terakhir apapun ilmu yang kita punya tidak akan bermanfaat bila kita tidak mengerjakannya dengan sungguh-sungguh. Harta dapat di rampas tapi ilmu tidak bisa dirampas. Ilmu merupakan investasi terbaik dalam hal bersaing dan bertahan. Ada 4 mitos terakhir dalam seri mindset ini yang harus kita hancurkan. Apakah Anda siap mempelajari ilmu penghancur mitos? yuk kita lanjut monggo...

7. Jika memiliki uang, orang dapat memenuhi semua keinginannya

Tidak semua hal di dunia ini bisa dibeli dengan uang. Hal-hal yang menyangkut “rasa” di hati, kerap tidak terkait dengan uang. Kalaupun ada yang mencoba membeli, itu hanya bersifat sementara saja. Uang hanya sebagai alat untuk mencapai kebahagiaan bukan membeli kebahagiaan itu sendiri.

Uang dapat "membeli wanita" tapi uang tidak dapat membeli cinta.
Uang dapat membuat istana yang megah tapi uang tidak dapat membeli keharmonisan dalam rumah tangga.

Oleh karena itu, jangan pernah berpikir uang merupakan satu-satunya cara mencapai tujuan hidup Anda. Visi/tujuan hidup kita adalah beribadah kepada-Nya bukan uang. Visi keuangan merupakan salah satu bagian kecil dari visi paripurna kita.

Atau di sisi lain, jika Anda masih merasa belum mampu mendapatkan uang dalam jumlah memadai, bukan berarti kiamat. Berapa pun uang Anda, sebenarnya tetap cukup, sepanjang Anda mau melakukan penyesuaian. Bersyukurlah dengan apa yang ada, itu dapat memberikan kekuatan yang besar bagi kita untuk maju.

8. Uang perlu dicari agar bisa pensiun dini dan tidak perlu bekerja lagi

Ini juga tidak terlalu tepat. Bekerja dan mencari uang adalah dua hal berbeda. Artinya, jika kita mencintai pekerjaan dan mendapatkan makna hidup, kenapa mesti pensiun? Dengan kata lain, bekerja tidak selalu identik demi uang. Akan tetapi, jika pekerjaan Anda hanya memberi beban hidup,kendati menghasilkan banyak uang, untuk apa Anda lanjutkan? Sebaliknya, jika Anda menikmati pekerjaan Anda alias klop, kendati uang yang dihasilkan tidak terlalu banyak, namun bisa memberi kelanggengan, maka akan membuat Anda jauh lebih baik dan berprestasi. Selain itu, Islam tidak mengenal kata pensiun, hitungan amal perbuatan baik maupun buruk akan tetap diperhitungkan hingga ajal menjemput kita. Kita harus terus bekerja, menolong dan bermanfaat bagi orang lain dimanapun kita berada sampai akhir hayat. Ini bukan masalah uang lagi bukan?

9. Untuk menjadi kaya harus berpendidikan tinggi

Mitos ini tidak selalu benar. Realitasnya, kita melihat banyak orang tidak berpendidikan tinggi, tetapi memiliki aset sangat besar. Sebaliknya, tidak sedikit kalangan memiliki latar pendidikan tinggi, tetapi hidup serba kekurangan. Yang benar adalah bagaimana memanfaatkan pendidikan tinggi yang dimiliki untuk bekerja atau memilih pekerjaan sesuai dengan minat dan memberikan penghasilan memadai.

Dalam buku The Millionaire Mind, Thomas J. Stanley, Phd menunjukan bahwa pendidikan formal bukan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan hidup seseorang. Ada 100 faktor yang mempengaruhi keberhasilan hidup seseorang, sepuluh faktor utama adalah bersikap jujur, mempunyai disiplin yang baik, pintar bergaul, mempunyai pasangan hidup yang mendukung, bekerja lebih keras daripada orang lain, mencintai karier/bisnis, memiliki kualitas kepemimpinan yang baik dan kuat,memiliki semangat/kepribadian yang sangat kompetitif, mengatur hidup dengan sangat baik, dan memiliki kemampuan untuk menjual ide atau produk. IQ menduduki urutan ke-21, masuk sekolah top/unggulan di urutan ke-23, dan lulus dengan nilai terbaik/hampir terbaik merupakan faktor sukses di urutan ke-30.

10. Jika berhasil memiliki uang lebih banyak, maka akan lebih besar kesempatan menabung.

Ini benar-benar pelecehan, sebab menabung bisa dilakukan pada jumlah berapa pun. Menabung tidak bergantung pada besarnya pendapatan,tetapi lebih pada kemauan. Lebih dari itu, kebiasaan banyak orang, semakin tinggi pendapatan maka semakin besar pula pengeluaran. Jadi bukan masalah gaji, gaji itu tidak penting yang terpenting adalah sisa gaji. Sisa gaji yang baik lalu diinvestasikan sehingga mampu meningkatkan pemasukan dan asset yang cukup bagi kita.

Selain kesepuluh hal tersebut, masih banyak mitos lain berkaitan dengan uang dan kekayaan yang berkembang di masyarakat. Namun, lepas apakah ada yang percaya dan terpengaruh atau tidak, intinya sebagian mitos tersebut tidak berdasar. Oleh karena itu, ada baiknya Anda mengubah paradigma dan tak menjadikan mitos sebagai referensi mencari kekayaan.

*Business Development Head pada SNF Consulting Surabaya
www.snfconsulting.com

10 Mitos Keuangan (Bagian Kedua)

Seri Mindset

10 Mitos Keuangan (Bagian Kedua)

Mmm...tiap hari kok hujan terus ya? penulis dengar-dengar kata orang
Tionghoa bila hujan lebat saat Imlek (Tahun Baru China) pasti banyak
rezeki di tahun berikutnya alias "Chuan" tapi kalau saat ini hujan
terus sampai banjir "Chuan" atau "Amsyiong" ya? Haa3x Amsyiong kali
yee...mitos ini benar atau tidak yang jelas motor penulis mogok
karena banjir :).

Keempat, hemat pangkal kaya, kaya itu asetnya banyak.

Bapak/Ibu forum komunitas FSQ yang saya hormati, masih ingat tidak
pada waktu kita menduduki sekolah dasar (SD) dulu, guru kita selalu
mengajarkan kepada kita pepatah hemat pangkal kaya? wah ini betul
tapibelum tuntas. Hemat dan punya tabungan saja belum cukup bila
akhirnya hasil tabungan selalu menjadi barang konsumsi. Hemat
pangkal kaya akanmenjadi benar-benar kaya jika hasil tabungan yang
dikumpulkan dibelikan barang modal/investasi. Jika tidak, maka Anda
hanya terlihat kaya alias rabun kaya. Beli rumah "gedong", mobil
keren, tampang parlente tapi banyak utang. Capek dech !

Kebanyakan orang melihat kaya itu hanya dari aset yang melekat pada
diri seseorang atau perilaku pura-pura kaya seseorang bukan dari
total aset bersih yang dimiliki seseorang. Apa itu aset bersih? aset
bersih adalah jumlah total aset dikurangi jumlah total kewajiban jika
hasilnya positif maka Anda bisa mewariskan harta ke anak Anda tetapi
bila negatif maka tentu saja Anda akan mewariskan hutang.

Aset bersih tinggi dapat diraih jika Aset yang dikumpulkan lebih
banyak berbentuk barang modal dari pada berbentuk barang konsumsi.
Kenapa? karena hanya barang modal yang dapat menghasilkan pemasukan
investasi berkelanjutan selain itu pada barang-barang modal tertentu
nilainya akan naik tiap tahunnya seperti emas,tanah dll. Begitupun
sebaliknya barang konsumsi nilainya akan turun dan tidak menghasilkan
pemasukan investasi kepada Anda malahan bisa menjadi beban bagi
Anda.

Kelima, hidup terasa indah jika punya rumah sendiri

Setiap orang di dunia ini pasti menginginkan punya rumah sendiri.
Betul tidak? Masak mau tinggal di rumah mertua indah terus? "Tengsin"
lah yau :). Oleh karena itu, tidak heran bila kebanyakan orang jika
ada uang lebih maka prioritas utamanya adalah membeli rumah. Masalah
jarak/dekat dengan tempat kantor terkadang tidak masalah asalkan
punya rumah. Untuk pasangan muda dimana tabungannya belum cukup,
mereka lebih banyak memilih rumah yang jauh asalkan duitnya cukup
dari pada kontrak rumah dekat dengan tempat kerja. Kenapa? karena
salah mempersepsikan makna rumahku surgaku dan rumahku istanaku
sehingga kebanyakan orang rela bangun lebih pagi serta pulang lebih
malam bahkan berlama-lama di jalan bertahun-tahun tetapi tetep
hepi :).

Contoh soal :

Jika Anda mempunyai tabungan Rp.60 juta dan mempunyai gaji 5
juta/bulan.
Pertanyaan pertama :
Apakah Anda akan memilih membeli rumah dengan harga Rp.200 juta
dengan 60 juta sebagai uang muka ditambah angsuran Rp.2,5
juta/bulan* (Asumsi bunga KPR 20%) selama 15 tahun atau memilih
kontrak rumah Rp.4-6 juta/tahun (Asumsi 2-3% dari harga rumah) lalu
sisa tabungan dan angsuran tiap bulan untuk investasi/wirausaha ?
*Kalkulator KPR (www.btn.co. id)

Pertanyaan kedua :
Lebih cepat mana? pilihan pertama atau kedua untuk mendapatkan hak
milik rumah seutuhnya?

Pilihan pertama sudah jelas, 15 tahun lagi Anda akan mendapatkan
rumah tersebut. Bagaimana dengan pilihan kedua? apakah bisa lebih
cepat?

Saya kasih contoh ilustrasi :
Modal Rp.54 juta, Anda membuat 6 warung Soto Ayam @Rp. 9 juta. Harga
per mangkok Rp.5 ribu (misal : untung bersih 20%).Sehari Anda hanya
menjual 20 mangkok/warung.

Hasil bersih setahun = 20 mangkok X 6 warung x (20% X Rp.5000) X 365
hari = Rp. 43,8 juta

Tidak sampai 5 tahun bukan? Angsuran Rp.2,5 juta/bulan juga bisa Anda
alokasikan untuk investasi yang lain.

Anda pilih yang mana?

Jawabannya relatif ;)
Jika Anda orang pengambil resiko dan yakin akan potensi Anda maka
pilihan kedua adalah pilihan terbaik tetapi sebaliknya jika Anda
ingin memiliki zona nyaman silakan memilih pilihan yang pertama.

Baca juga artikel Jakarta Coret (http://snfconsulting.com/artikel09.
html)

Keenam, uang tidak pernah cukup, maka harus dikerjar terus tanpa
henti

Mitos ini salah kaprah, karena pada kenyataannya uang selalu cukup
sepanjang kita tahu bagaimana memanfaatkan dan mengelolanya. Untuk
mengelola uang hingga bisa bertumbuh dan menjadi cukup, selayaknya
setiap orang memiliki perencanaan bagaimana mencari dan menggunakan
uang.Salah satu cara yang paling sederhana adalah menentukan lebih
dulu berapa uang yang Anda perlukan untuk memenuhi kebutuhan primer,
sekunder, dan tersier. Memang, tingkat kebutuhan setiap orang beda,
namun yang penting Anda harus menentukan sesuai dengan tingkat
kehidupan yang Anda inginkan.

Setelah itu, Anda tentu akan mencari penghasilan. Di sini yang perlu
Anda pastikan bukan mencari penghasilan sebesar-besarnya, melainkan
bagaimana Anda memiliki kemampuan menghasilkan uang secara langgeng
dan mampu memenuhi kebutuhan hidup Anda.Jadi, bukan bagaimana mencari
uang sebanyak-banyaknya, melainkan mengondisikan keadaan sehingga
Anda memiliki uang yang cukup secara langgeng. Konkretnya, buat apa
Anda memiliki uang dalam jumlah besar, kalau beberapa saat kemudian
uang tersebut habis. Jauh lebih baik jika Anda memiliki uang cukup,
namun terus berkelanjutan. (Kompas edisi Minggu, 6 Februari 2005.
Ditulis oleh: Elvyn G Masassya)

Bapak/Ibu kenal Myke Tyson? si "leher beton" tapi bukan otot kawat
tulang besi lo..(itu mah Gatot Kaca). Bapak Tyson ini dulu ketika
berjaya memiliki kekayaan hanya dari bertinju saja sebesar 300 juta
dollar Amerika. Dia mendapat gaji Rp. 50 Milyar sekali bertanding,
hebat kan! Itu belum dari hasil iklan dan kerja sampingannya, pasti
banyak banget ! tetapi kenapa bisa jatuh miskin ya? kemampuan
mengelola keuangan adalah jawabannya. Bagaimana dengan Anda?

Budi Wahyu Mahardhika
Business Development Head pada SNF Consulting
mahardhika@snfconsulting.com
budi.w.mahardhika@gmail.com

10 Mitos Keuangan (Bagian Pertama)

Seri Mind Set

10 Mitos Keuangan

Setiap orang bila ditanya tentang makna atau arti kekayaan terkadang jawabannya bisa berbeda-beda. Ada yang memaknai bahwa kaya itu adalah kaya harta, ada yang memaknai kaya itu adalah kaya hati,ada yang memaknai kaya itu adalah kaya artis bahkan ada juga yang memaknai kaya itu adalah kaya hantu hi...hi.

Setiap orang bebas dalam memaknai kekayaan tapi dalam pembahasan modul kedua kali ini kita akan membahas tentang teori keseimbangan dimana kekayaan harta dunia dan kekayaan akhirat bisa selaras sehingga tidak berat sebelah pada salah satu sisinya.

Untuk tidak terjebak pada makna kekayaan, baik dalam pandangan yang menganggap kekayaan adalah segalanya sehingga hanya uang yang bisa membuat kita bahagia dan juga sebaliknya, tidak salah jika kita cermati beberapa mitos yang mengemuka dalam masyarakat berkaitan dengan uang atau pun kekayaan.

Pertama, buat apa mengejar kekayaan, kekayaan tidak menjamin kebahagiaan, kekayaan tidak menjamin masuk surga.*

Mitos ini sekilas benar tetapi mitos ini tidak berimbang. Seakan-akan kaya itu kotor, uang adalah sumber kejahatan, uang tak bisa membeli kebahagiaan. Kata-kata menggambarkan pikiran yang menghidupkan perasaan. Jika mind set salah ini dibiarkan terus-menerus maka akan menginternalisasi ke diri Anda menuju alam bawah sadar sehingga Anda sulit untuk meningkatkan potensi finansial Anda.

Bukankah Rasullulah SAW mengajarkan kita doa agar tetap berimbang, Robbana Atina Fiddunya Hasanah, Wa fil Akhirati Hasanah Wa qina Adza bannar ( Ya Tuhan kami berikanlah kebaikan dunia dan kebaikan akhirat serta jauhkanlah kami dari api neraka). Kita tidak boleh melupakan dunia, kita ini tidak hidup untuk diri kita sendiri, kita juga punya tugas dan tanggung jawab sebagai khalifah untuk memakmurkan bumi(kegedean ya :) ). Bukankah begitu kawan?

Bagaimana kalau mitos ini kita balik?

Buat apa mengejar kemiskinan, kemiskinan tidak menjamin kebahagiaan,
kemiskinan tidak menjamin masuk surga.*

Tanda * memenuhi makna syarat dan ketentuan berlaku.

Jadi kita bisa mengambil kesimpulan : Orang masuk surga bukan karena dia kaya atau miskin tetapi masalah ketakwaan dan bagaimana dia bisa bermanfaat bagi orang lain. Betul ora son?

Kedua, mendapatkan uang haram saja sulit bagaimana mencari yang halal?

Wah kalau ada orang yang ngomong begini dapat dipastikan orang tersebut lagi putus asa. Kok putus asa? ya, putus asa dari rahmat Allah SWT. Dia tidak yakin bahwa Allah telah memberi rizki kepada seluruh manusia dan alam semesta tanpa terkecuali. Bahkan semut yang kecil aja sudah ada rezekinya, kita hanya cukup beriktiar/berusaha
saja untuk mengambilnya. Ini hanya masalah keyakinan kawan, jika anda yakin mendapatkan uang halal itu mudah maka akan menjadi mudah begitupun sebaliknya.

Jika Anda percaya pada kehidupan setelah mati, Uang haram itu sangat berbahaya. Bila kedapatan istri Anda mulai tidak patuh, Anak anda sudah berani melawan bahkan diri Anda sendiri telah melupakan Allah SWT maka kemungkinan besar kekayaan Anda terindikasi uang haram.

Duit haram itu dipastikan berdosa di hadapan Allah SWT, Amal dari duit haram pasti tertolak, dan keluarga Anda bisa menjadi tidak harmonis akibat duit haram.

Mungkinkah ada dosa tujuh turunan akibat duit/harta haram? Mmmm...Ini luar biasa berbahaya. Bila amal jariah pahala akan mengalir terus menerus bagi pemberinya tentu saja bila harta berupa rumah, uang atau apa pun yang kita punya dihasilkan dari duit haram dan dipakai terus menerus oleh anak cucu kita maka bukankah terjadi sebaliknya. Anda setuju dengan saya? So, enakan jadi orang baik ya...(anak kecil juga
tahu he...he)

Ketiga, gue bukan keturunan ningrat, mana bisa kaya?

Terkadang kita menyalahkan orang lain atau lingkungan sekeliling kita bila kita terlahir di lingkungan yang kurang bagus kesejahteraannya. Nah konsep guru goblok ketemu murid goblok dari Pak Iman bisa masuk neh ! Menyalahkan orang lain atau lingkungan Anda tidak akan merubah kondisi finansial Anda malah bisa menimbulkan konflik baru. Bukankah ayah dan ibu kita sudah bersusah payah memberikan yang terbaik buat kita? maka hargailah kerja keras beliau sekecil apa pun itu.

Trus gimana dunk bro ! Pertama, akuilah kenyataan hidup Anda. Akuilah gue orang miskin, akuilah "I am Goblok" dalam mencari uang itu jauh lebih baik dari pada kita selalu menyalahkan orang lain. Gentle gitu loh ! kedua, bersyukurlah. Saya yakin masih ada yang jauh lebih miskin dari kita maka mencari orang yang jauh lebih miskin dari kita akan membuat hati kita lebih mudah bersyukur. Bukankah ada pepatah "Di
bawah miskin masih ada yang lebih miskin" he3x just kidding bro, ini hanya untuk mengambil ibroh/hikmah lo bukan untuk menghina kaum miskin. Ketiga, Anda harus yakin bahwa tidak ada yang mustahil di dunia ini bila kita sungguh-sungguh bekerja keras, kalau masalah hasil kita serahkan saja kepada Allah. Terakhir, keempat ya dimulai sekarang aja bos kerja kerasnya jangan di tunda-tunda. Jangan lupa mencari guru
bisnis/keuangan agar lebih cepet dalam mencapai cita-cita keuangan Anda.

Bukankah : Saat anda membutuhkan nasihat hukum, Anda mendatangi pengacara. Saat Anda sakit gigi, Anda pergi ke dokter gigi. Namun saat membutuhkan bantuan keuangan, kebanyakan orang akan mengandalkan saran dan bantuan orang tua. Tentu saja, tak jadi masalah jika orang tua kita adalah seorang milyuner. Namun, jika orang tua kita memiliki kondisi keuangan yang tidak lebih baik dari kita, mengapa kita mendengarkan saran mereka? Bisa jadi, keyakinan mereka yang salah tentang uang mempengaruhi saran mereka. Meskipun maksud mereka baik, saran mereka tentu tidak tepat bagi kita (Paul Hanna). Jadi ingat sama kata-kata Pak Iman, "Dik aku kalau mau mengambil keputusan untuk berinvestasi maka aku akan memutuskannya sendiri" Istri bagaimana? Cukup diberi
tahu dan minta restu saja. Ooo Gitu toh...maka lihatlah sekeliling Anda dan temukan seseorang yang situasi keuangannya lebih baik dari Anda. Temui saja mereka dan mintalah sarannya.

Bersambung.. .....

Materi minggu depan, yaitu :

Keempat, hemat pangkal kaya, kaya itu asetnya banyak.
Kelima, hidup terasa indah jika punya rumah sendiri
Keenam, uang tidak pernah cukup, maka harus dikejar terus

Ok, sahabat komunitas FSQ minggu depan kita sambung lagi. Ingat, tetep
merasa goblok tetapi goblok dinamis yang senantiasa selalu belajar.
Keep "goblok" please...

Budi Wahyu Mahardhika
Business Development Head pada SNF Consulting
budi.w.mahardhika@gmail.com
mahardhika@snfconsulting.com

Road Map

Assalamualaikum Wr.Wb
Salam sukses untuk semuanya khususnya anggota newsletter dan
forum diskusi SNF Consulting yang tentu saja berharap di tahun 2009
ini akan jauh lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Umur tambah tua
seharusnya tambah pula amalnya dan juga yang terakhir tambah pula
kekayaannya. Bukannya begitu? :)

Newsletter ini berisi tentang 3 hal, yaitu :
1. Kursus Mengelola Kekayaan
2. Artikel Keuangan & Bisnis
3. Kegiatan SNF Consulting

Bagi temen-temen anggota forum diskusi yang belum mendaftar silakan
mendaftar dengan kirim email ke info@snfconsulting.com dengan
disertai nama, alamat,pekerjaan dan no.telepon.

Catatan :
Kursus dan artikel yang diberikan untuk anggota newsletter boleh
disebarluaskan ke media manapun asalkan TIDAK DiKOMERSIALKAN dan ada
sumber beritanya (SNF Consulting).

Terima kasih atas perhatiannya
Wass.Wr.Wb
Administrator


Modul Pertama

Road Map

Road Map apakah itu? Road Map adalah peta jalan atau bisa juga acuan
untuk mencapai sesuatu dalam hal ini adalah kekayaan. Ya, acuan. Kita
harus menentukan acuan untuk berjalan selangkah demi selangkah dalam
setiap pembelajaran. Setiap praktisi bisnis dan keuangan mempunyai
pandangan yang berbeda dalam hal menentukan acuan ini tapi Saya
mengambil kesimpulan dari berbagai sumber, paling tidak ada 8 hal
acuan untuk meraih kekayaan yang kita impikan. Kok delapan, ya
ketepatan aja bukan kampanye partai lho :).

Kedelapan Road Map itu, yaitu :

1. Mindset, sekali lagi soal mindset. Ini adalah sumber dari semua
cara berpikir dan pola tindakan kita. Ini harus diberesin dulu, jika
tidak dibereskan maka hasilnya kurang maksimal. Orang yang sudah take
action, tapi gagal terus, biasanya gara-gara salah di mind set ini.

Contoh Mindset yang salah :
"Buat apa mengejar-ngejar kekayaan. Kekayaan tidak menjamin hidup
bahagia, kekayaan tidak menjamin masuk surga"

Apa lagi ini...Anda lahir pada bla3x, Anda tidak cocok kerja di air,
Anda seharusnya cocok kerja di hutan he3x

2. Goals. Ya, kita harus punya tujuan yang jelas. Tentukan goals yang
jelas. Kalau tidak ada goals yang jelas bisa jadi kita kehilangan
arah dalam mencapainya.

Masih ingat cerita doa bangun sepagi mungkin? cerita ini menjelaskan
bagaimana kita harus menentukan tujuan secara jelas dan detail
tentang keinginan kita.


3. Financial Plan. Setelah goals-nya jelas, maka diperlukan financial
plan bagaimana itu semua bisa dicapai. Financial plan adalah alat
bantu untuk mencapai tujuan tapi yang terpenting adalah
pelaksanaannya jika tidak dilaksanakan maka akan mubazir (Penulis gak
dapat pahala, pembaca juga gak kaya).Nah, di kursus ini juga akan
dijelaskan secara detail dan sederhana tentang bagaimana
mempergunakan alat ini.

4. Increase Income. Ini yang menarik. Bagaimana meningkatkan omzet
dan profit bisnis secara mudah dan sederhana bagi pengusaha. Bagi
pekerja, bagaimana mendapatkan pemasukan lebih besar dari sebelumnya?
Bukan melalui demo lho...

5. Eficiency. Ini juga harus dilakukan. Jangan hanya memperbesar
income tapi boros dan akhirnya bangkrut juga. Di sini kita diharuskan
untuk selalu berusaha menekan pengeluaran. Live below your mean,
hidup sederhana. Hidup sederhana berbeda lho dengan hidup miskin.
It's defferent baybeh !

Inti efisiensi adalah gaya hidup hemat tanpa mengorbankan pengeluaran
yang memang diperlukan. Tetap harus menikmati hidup, menurut saya.

6. Grow. Nah ini juga harus dilakukan. Kalau sudah terkumpul uangnya,
harus direncanakan pertumbuhannya. Grow hanya bisa dilakukan dengan
investasi. Ilmu mengenai investasi dan bagaimana mengalokasikannya
juga Anda dapatkan dalam kursus ini.

7. Protect. Aset kita harus aman. Caranya? Bisa lewat asuransi,
bantuan hukum, jasa pengelola aset dan sebagainya. Banyak lho, orang
yang pintar mengumpulkan tapi tidak diprotect. Akhirnya amblas begitu
aja.

8. Spiritual Finance. Shodaqoh, zakat, infaq adalah investasi dunia
akhirat dengan tingkat pengembalian yang tidak terhitung jumlahnya.
The Power of Giving (kekuatan untuk memberi) ini adalah syarat sah
untuk menjadi orang kaya. Bila ingin kaya, jangan lupa ilmu yang satu
ini. Spiritual finance juga membahas bagaimana kekayaan itu
didapatkan. Tentu saja kekayaan yang berkah bukan kekayaan asal
sikat. Mau mewariskan dosa selama tujuh turunan? ngga mau kan!

Ok,kawan komunitas FSQ sampai sini dulu pembahasan kita tentang
kursus mengatur kekakayaannya. Minggu depan di sambung lagi....Keep
Fight !


Budi Wahyu Mahardhika
Business Development pada SNF Consulting
budi.w.mahardhika@gmail.com
mahardhika@snfconsulting.com

Habitus Baru Kebijakan Finansial

Judul buku : Memahami, mengukur,dan Meningkatkan Financial Spiritual Quotient untuk keunggulan diri, perusahaan & masyarakat
Penulis : Iman Supriyono
Penerbit : SNF Consulting, Surabaya
Peresensi : J.Sumardianta
( www.snfconsulting.com )
Cetakan : 4
Tebal : XX + 444 Halaman -----

Ahmad Baidlowi, bukan nama sebenarnya, seorang pengusaha sol sepatu sukses. Ia membuka usaha di sentra industri sepatu di Jawa Timur. Di masa kejayaan, ia sangat dipercaya pemasok. Senantiasa dikirimi barang dagangan bernilai miliaran rupiah tanpa membayar terlebih dulu. Di menara kesuksesan Baidlowi terlena. Ia mengidap sindrom kepuasan finansial dini. Sebuah sedan baru berharga dua ratus juta rupiah dibeli dengan cara mengangsur. Ia ingin, dalam pergaulan sosial, memeragakan diri sebagai orang sukses.

Baidlowi menikah lagi dengan istri kedua di luar kota. Ia sungguh menikmati hidup sebagai pengusaha makmur. Anak-anak disekolahkan di perguruan swasta favorit dengan iuran mahal. Anak-anak dibiasakan hidup di lingkungan orang kaya. Sekolah diantar jemput mobil bagus. Belajar di kelas berpendingin ruangan. Tahun 2003 industri sepatu lesu. Banyak pengusaha sepatu gulung tikar. Bisnis Baidlowi pun kena imbas. Omset sol sepatu terus menukik turun. Sementara gaya hidup tetap berpacu di atas ban berjalan hedonisme (hedonic treadmill). Pola hidup Baidlowi seperti tikus hamster dalam jebakan putar. Kenaikan pendapatan diikuti dengan kenaikan kebutuhan pencetus keinginan (need create want). Semakin kencang hamster berlari semakin banter pula putaran jebakannya.

Satu demi satu bilyet giro (BG) yang dipegang pemasok ditolak bank. Pemasok enggan berurusan dengan Badlowi. Bagai lenyap ditelan bumi, Baidlowi menghilang dari peredaran di tengah derasnya tagihan bertubi relasi bisnis. Sindrom ejakulasi finansial dini bersama sindrom SMS kuadrat (senang melihat orang lain susah dan susah melihat orang lain sukses) merupakan patologi endemik yang merajalela di kalangan masyarakat.

Ahmad Baidlowi, meminjam kerangka berpikir Iman Supriyono, dalam buku FSQ, merupakan contoh ekstem manusia yang tidak cerdas finansial spiritual (FSQ). Buku FSQ didesain Iman Supriyono, konsultan strategic finance, buat membantu khalayak memahami mekanisme finansial yang ditempatkan di atas landasan kokoh kecerdasan spiritual. Profil manusia cerdas finansial spiritual, menurut direktur SNF Consulting Surabaya itu, adalah orang yang memiliki kejujuran dan setia pada komitmen.

Financial Spiritual Quotient (FSQ) dengan rumusan numerik Financial Quotient (FQ) memberikan framework operasional bagaimana mencapai prestasi finansial dengan tetap berpegang pada nilai-nilai spiritual dalam kondisi sedilematis apa pun. Rumusan numerik perhitungan skor FQ memacu orang untuk cerdas mencari uang dengan sumber-sumber halal, terbebas dari perbuatan tercela dan ketergantungan pada orang lain. Makin tinggi skor FQ, makin sukses finansial spiritualnya.

Skor FQ menunjukkan jumlah orang yang bisa mendapatkan manfaat finansial melalui kerja dan investasi si pemilik skor tersebut. FQ 1 mampu menanggung beban finansial satu orang (diri sendiri). FQ 2 mampu menanggung beban finansial 2 orang, yaitu dirinya sendiri dan satu orang lain yang beban finansialnya setara dirinya. FQ 3 mampu menanggung beban finansial 3 orang, yaitu dirinya sendiri, dan dua orang lain yang setara dengannya. Prestasi FSQ orang tua dianggap gemilang bila anak-anaknya bisa mencapai FQ 1 maksimum usia 12 tahun. Ibarat kuliah orang tua dianggap DO bila anak-anak mereka mengidap mentalitas 12 M: Madep mantep melu moro tuwa. Moro tuwa nesu minggat. Moro tuwa mati maris (Berteguh hati hidup bersama mertua. Mertua marah, pergi. Mertua meninggal, nunggu pembagian harta warisan).

With money you can buy: a house, a clock, a bed, a book, a position, blood, sex, and see a doctor. But you can't buy a home, time, sleep, knowledge, respect, life, love, and good health (Dengan uang Anda bisa membeli rumah, jam, tempat tidur, jabatan, darah, dan berobat ke doctor. Kendati demikian Anda tidak bisa membeli hunian yang damai, waktu, istirahat nyaman, pengetahuan, kehormatan, kehidupan, cinta, dan kesehatan).

Peribahasa Tiongkok modern perihal uang tadi kiranya relevan buat mengapresiasi profil-profil manusia yang cerdas finansial spiritual sebagaimana dikisahkan Iman Supriyono secara inspirasional dalam buku FSQ.

Uang bukan segala-galanya tapi tanpa uang menjadi susah segala-galanya. Kopral Satu (Koptu) Wagimin adalah serdadu kelahiran Caruban, Madiun, yang berdinas di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Gajinya tidak lebih dari 1 juta rupiah per bulan. Koptu Wagimin adalah tentara berpangkat rendah tapi FSQ-nya tinggi. Mula-mula ia berhutang dengan agunan gaji buat membeli sapi. Ia menitipkan sapi-sapinya pada para transmigran Jawa di Pelaihari �60 kilometer selatan Banjarmasin.

Seekor induk sapi biasanya beranak setahun sekali. Dengan 24 ekor sapi betina, setiap tahun Koptu Wagimin memperoleh 24 pedet (anakan sapi). Dengan sistem nggaduh (bagi hasil) itu pemilik dapat bagian 12 ekor sapi. Harga seekor sapi yang sudah bisa dipisah dari induknya paling murah Rp 3 juta. Artinya, Koptu Wagimin mendapat income Rp 3 juta dari seekor anak sapi setiap bulan. Pangkat kopral gaji jenderal. Kehidupan Koptu Wagimin migunani tumraping liyan (berguna bagi sesama). Alhadits mengajarkan sebaik-baiknya orang adalah yang paling berfaedah bagi sesamanya. Koptu Wagimin tidak hanya menghidupi keluarga melainkan memberi lapangan kerja buat masyarakat pedesaan yang nggaduh sapi-sapinya.

***

Fuad Fanani, bukan nama sebenarnya, manajer pemasaran sebuah perusahaan asuransi papan atas di Jakarta, ingin berterima kasih kepada orang tuanya. Dia bekerja keras dan menabung agar orang tuanya yang sudah mulai renta bisa menunaikan ibadah haji. Senyum bahagia kedua orang tua mengenakan ihram di Mekah dan Madinah se

nantiasa membayangi Fanani setiap hari. Suara azan merdu dari Masjidil Haram seakan mengiang di alam bawah sadarnya. Semangat kerja yang goyah di tepian rutinitas monoton kembali terdongkrak tatkala Fanani teringat nazarnya. Fanani akhirnya bisa memberangkatkan kedua orang tuanya menunaikan rukun Islam kelima pada 2007.

Kullu mauludin yuladu alal fitrah. Setiap manusia dilahirkan dalam fitrah. Begitu bunyi potongan sebuah hadits. Setiap orang dibekali fitrah untuk belajar menjadi orang yang cerdas finansial spiritual. Orang yang memiliki komitmen kuat pada keluhuran, dalam bahasa Arab, disebut ilah. Koptu Wagimin dan Fuad Fanani adalah orang yang setia pada nilai-nilai spiritual dalam kondisi dilematis apa pun. Orang yang memiliki visi paripurna kokoh hidup dengan satu tujuan berbakti kepada Sang Pencipta. (*)

J.Sumardianta, Guru Sosiologi SMA Kolose De Britto Jogjakarta

Nasehat Bermakna

"Dunia itu manis lagi hijau. Siapa yang memperoleh harta dari usaha halalnya lalu membelanjakannya sesuai dengan hak-haknya, maka Allah akan memberinya pahala dari nafkahnya itu, dan Dia akan memasukkannya ke dalam surga-Nya. Siapa yang memperoleh hartanya dari jalan haram lalu ia membelanjakannya bukan pada hak-haknya, maka Allah akan menjerumuskannya ke dalam tempat yang menghinakan (neraka). Banyak orang yang dititipi harta Allah dan Rasul-Nya kelak di hari kiamat mendapat siksa api neraka." (HR, al-Baihaqi)