Tiba-tiba saya menyesali keputusan perusahaan yang tidak mengikutkan saya untuk hadir di acara bedah buku FSQ di Islamic Book Fair Malang. Tapi mau gimana lagi, mulai jam 19.30 kemarin malam tanggul penahan lumpur Lapindo Sidoarjo jebol dan sampai sekarang belum dapat diperbaiki akibatnya 2 jalur yang menghubungkan Surabaya-Malang (tertutup lumpur setinggi 1 meter) terputus. Ketika saya kembali ke Surabaya pun tanggal 27 Desember 2007 lalu, musibah banjir telah dimulai (Cepu,Bojonegoro,dll). Tapi alhamdulillah saya masih tertolong karena baru hari berikutnyalah musibah banjir besar itu terjadi.
Musibah datang silih berganti seakan-akan tidak ada henti-hentinya belum satu musibah selesai datang lagi musibah berikutnya seperti pepatah bilang “Lepas dari mulut buaya, masuk ke mulut harimau”. Belum lagi, masyarakat harus menghadapi harga-harga yang mulai merangkak naik dimulai dari naiknya 9 bahan pokok, biaya kesehatan, biaya pendidikan dan yang terakhir gonjang-ganjing akan naiknya BBM yang diakibatkan karena harga minyak dunia yang melonjak. Kita bermain pepatah lagi “Sudah jatuh di timpa tangga terus di tiban batako, batu kepek terus sekalian rumahnya nibanin pemiliknya” itulah nasib dari bangsa Indonesia.
Apakah kita harus menyalahkan pemerintah? Di alam modern ini, peran pemerintah memang harus menjadi semakin kecil karena masyarakat sudah mampu mengurus dirinya sendiri. Acap kali kita mengecilkan peran dan kemampuan swadaya masyarakat, lalu menyerahkan urusan-urusan yang sebetulnya urusan kita kepada pemerintah. Sangat mungkin jadi kesalahannya terletak pada diri kita sendiri. Kita mengharap terlalu banyak dari pemerintah dan kaum elit politik, serta tidak melakukan apa-apa terhadap diri kita sendiri. Kita terlalu pasrah menunggu sampai pemerintah mengubah nasib kita. Kalau pemerintah yang sekarang belum mampu, mungkin pemerintah yang akan datang bakal mampu mengubah nasib kita. Lha, bagaimana kalau tidak ?
Jangan bermimpi, Saudaraku. Rebut kembali nasib Anda. Be your best! Tuntut dirimu sendiri menjadi yang terbaik. Kerja keras dan kembangkan dirimu menjadi yang paling unggul. Jangan tunggu orang lain mengubah nasibmu. Nasib kita hanya ditentukan oleh diri kita sendiri, seberapa hebat kita tampil di kancah persaingan. Jangan tunggu pemerintah memperbaiki sistem pendidikan karena kita berkemampuan mendidik diri kita sendiri. Jangan tunggu pemerintah membasmi korupsi karena kita sendiri dapat mulai menjadi sel antikorupsi dan yang terakhir jangan menunggu bantuan/sumbangan dari pemerintah padahal kita mampu untuk memberi bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Jadilah lilin di tengah kegelapan. Jadilah lilin yang mencerahkan. Biarlah angin dan badai berembus, asal kita mampu terus menyala. Karena, kalau kita tidak menyala, kita akan mati.
Buktikan merahmu Saudaraku… Biarlah Allah SWT saja yang melihat dan menilai pekerjaan kita, bukan yang lain.
Selamat Tahun Baru Hijriyah 1 Muharram 1429, wahai saudaraku. Semoga di tahun 1429 H nanti, kita di mudahkan oleh Allah untuk mengemban amanah yang diberikannya-Nya dengan kualitas terbaik dan saya juga mengucapkan selamat kepada Akhuna Heri sebagai Ketumda yang baru semoga KAMMDA Surabaya jauh lebih baik dan jauh bermanfaat bagi masyarakat dan dakwah Islam ke depan. Selamat Berjuang!!!
Budi W. Mahardhika
mahardhika@snfconsulting.com
Kejawan Gebang, 05 Januari 2008
"Dunia itu manis lagi hijau. Siapa yang memperoleh harta dari usaha halalnya lalu membelanjakannya sesuai dengan hak-haknya, maka Allah akan memberinya pahala dari nafkahnya itu, dan Dia akan memasukkannya ke dalam surga-Nya. Siapa yang memperoleh hartanya dari jalan haram lalu ia membelanjakannya bukan pada hak-haknya, maka Allah akan menjerumuskannya ke dalam tempat yang menghinakan (neraka). Banyak orang yang dititipi harta Allah dan Rasul-Nya kelak di hari kiamat mendapat siksa api neraka." (HR, al-Baihaqi)

0 komentar:
Posting Komentar