Seri Mindset
10 Mitos Keuangan (Bagian Kedua)
Mmm...tiap hari kok hujan terus ya? penulis dengar-dengar kata orang
Tionghoa bila hujan lebat saat Imlek (Tahun Baru China) pasti banyak
rezeki di tahun berikutnya alias "Chuan" tapi kalau saat ini hujan
terus sampai banjir "Chuan" atau "Amsyiong" ya? Haa3x Amsyiong kali
yee...mitos ini benar atau tidak yang jelas motor penulis mogok
karena banjir :).
Keempat, hemat pangkal kaya, kaya itu asetnya banyak.
Bapak/Ibu forum komunitas FSQ yang saya hormati, masih ingat tidak
pada waktu kita menduduki sekolah dasar (SD) dulu, guru kita selalu
mengajarkan kepada kita pepatah hemat pangkal kaya? wah ini betul
tapibelum tuntas. Hemat dan punya tabungan saja belum cukup bila
akhirnya hasil tabungan selalu menjadi barang konsumsi. Hemat
pangkal kaya akanmenjadi benar-benar kaya jika hasil tabungan yang
dikumpulkan dibelikan barang modal/investasi. Jika tidak, maka Anda
hanya terlihat kaya alias rabun kaya. Beli rumah "gedong", mobil
keren, tampang parlente tapi banyak utang. Capek dech !
Kebanyakan orang melihat kaya itu hanya dari aset yang melekat pada
diri seseorang atau perilaku pura-pura kaya seseorang bukan dari
total aset bersih yang dimiliki seseorang. Apa itu aset bersih? aset
bersih adalah jumlah total aset dikurangi jumlah total kewajiban jika
hasilnya positif maka Anda bisa mewariskan harta ke anak Anda tetapi
bila negatif maka tentu saja Anda akan mewariskan hutang.
Aset bersih tinggi dapat diraih jika Aset yang dikumpulkan lebih
banyak berbentuk barang modal dari pada berbentuk barang konsumsi.
Kenapa? karena hanya barang modal yang dapat menghasilkan pemasukan
investasi berkelanjutan selain itu pada barang-barang modal tertentu
nilainya akan naik tiap tahunnya seperti emas,tanah dll. Begitupun
sebaliknya barang konsumsi nilainya akan turun dan tidak menghasilkan
pemasukan investasi kepada Anda malahan bisa menjadi beban bagi
Anda.
Kelima, hidup terasa indah jika punya rumah sendiri
Setiap orang di dunia ini pasti menginginkan punya rumah sendiri.
Betul tidak? Masak mau tinggal di rumah mertua indah terus? "Tengsin"
lah yau :). Oleh karena itu, tidak heran bila kebanyakan orang jika
ada uang lebih maka prioritas utamanya adalah membeli rumah. Masalah
jarak/dekat dengan tempat kantor terkadang tidak masalah asalkan
punya rumah. Untuk pasangan muda dimana tabungannya belum cukup,
mereka lebih banyak memilih rumah yang jauh asalkan duitnya cukup
dari pada kontrak rumah dekat dengan tempat kerja. Kenapa? karena
salah mempersepsikan makna rumahku surgaku dan rumahku istanaku
sehingga kebanyakan orang rela bangun lebih pagi serta pulang lebih
malam bahkan berlama-lama di jalan bertahun-tahun tetapi tetep
hepi :).
Contoh soal :
Jika Anda mempunyai tabungan Rp.60 juta dan mempunyai gaji 5
juta/bulan.
Pertanyaan pertama :
Apakah Anda akan memilih membeli rumah dengan harga Rp.200 juta
dengan 60 juta sebagai uang muka ditambah angsuran Rp.2,5
juta/bulan* (Asumsi bunga KPR 20%) selama 15 tahun atau memilih
kontrak rumah Rp.4-6 juta/tahun (Asumsi 2-3% dari harga rumah) lalu
sisa tabungan dan angsuran tiap bulan untuk investasi/wirausaha ?
*Kalkulator KPR (www.btn.co. id)
Pertanyaan kedua :
Lebih cepat mana? pilihan pertama atau kedua untuk mendapatkan hak
milik rumah seutuhnya?
Pilihan pertama sudah jelas, 15 tahun lagi Anda akan mendapatkan
rumah tersebut. Bagaimana dengan pilihan kedua? apakah bisa lebih
cepat?
Saya kasih contoh ilustrasi :
Modal Rp.54 juta, Anda membuat 6 warung Soto Ayam @Rp. 9 juta. Harga
per mangkok Rp.5 ribu (misal : untung bersih 20%).Sehari Anda hanya
menjual 20 mangkok/warung.
Hasil bersih setahun = 20 mangkok X 6 warung x (20% X Rp.5000) X 365
hari = Rp. 43,8 juta
Tidak sampai 5 tahun bukan? Angsuran Rp.2,5 juta/bulan juga bisa Anda
alokasikan untuk investasi yang lain.
Anda pilih yang mana?
Jawabannya relatif ;)
Jika Anda orang pengambil resiko dan yakin akan potensi Anda maka
pilihan kedua adalah pilihan terbaik tetapi sebaliknya jika Anda
ingin memiliki zona nyaman silakan memilih pilihan yang pertama.
Baca juga artikel Jakarta Coret (http://snfconsulting.com/artikel09.
html)
Keenam, uang tidak pernah cukup, maka harus dikerjar terus tanpa
henti
Mitos ini salah kaprah, karena pada kenyataannya uang selalu cukup
sepanjang kita tahu bagaimana memanfaatkan dan mengelolanya. Untuk
mengelola uang hingga bisa bertumbuh dan menjadi cukup, selayaknya
setiap orang memiliki perencanaan bagaimana mencari dan menggunakan
uang.Salah satu cara yang paling sederhana adalah menentukan lebih
dulu berapa uang yang Anda perlukan untuk memenuhi kebutuhan primer,
sekunder, dan tersier. Memang, tingkat kebutuhan setiap orang beda,
namun yang penting Anda harus menentukan sesuai dengan tingkat
kehidupan yang Anda inginkan.
Setelah itu, Anda tentu akan mencari penghasilan. Di sini yang perlu
Anda pastikan bukan mencari penghasilan sebesar-besarnya, melainkan
bagaimana Anda memiliki kemampuan menghasilkan uang secara langgeng
dan mampu memenuhi kebutuhan hidup Anda.Jadi, bukan bagaimana mencari
uang sebanyak-banyaknya, melainkan mengondisikan keadaan sehingga
Anda memiliki uang yang cukup secara langgeng. Konkretnya, buat apa
Anda memiliki uang dalam jumlah besar, kalau beberapa saat kemudian
uang tersebut habis. Jauh lebih baik jika Anda memiliki uang cukup,
namun terus berkelanjutan. (Kompas edisi Minggu, 6 Februari 2005.
Ditulis oleh: Elvyn G Masassya)
Bapak/Ibu kenal Myke Tyson? si "leher beton" tapi bukan otot kawat
tulang besi lo..(itu mah Gatot Kaca). Bapak Tyson ini dulu ketika
berjaya memiliki kekayaan hanya dari bertinju saja sebesar 300 juta
dollar Amerika. Dia mendapat gaji Rp. 50 Milyar sekali bertanding,
hebat kan! Itu belum dari hasil iklan dan kerja sampingannya, pasti
banyak banget ! tetapi kenapa bisa jatuh miskin ya? kemampuan
mengelola keuangan adalah jawabannya. Bagaimana dengan Anda?
Budi Wahyu Mahardhika
Business Development Head pada SNF Consulting
mahardhika@snfconsulting.com
budi.w.mahardhika@gmail.com
"Dunia itu manis lagi hijau. Siapa yang memperoleh harta dari usaha halalnya lalu membelanjakannya sesuai dengan hak-haknya, maka Allah akan memberinya pahala dari nafkahnya itu, dan Dia akan memasukkannya ke dalam surga-Nya. Siapa yang memperoleh hartanya dari jalan haram lalu ia membelanjakannya bukan pada hak-haknya, maka Allah akan menjerumuskannya ke dalam tempat yang menghinakan (neraka). Banyak orang yang dititipi harta Allah dan Rasul-Nya kelak di hari kiamat mendapat siksa api neraka." (HR, al-Baihaqi)

0 komentar:
Posting Komentar