Seri Mind Set

10 Mitos Keuangan

Setiap orang bila ditanya tentang makna atau arti kekayaan terkadang jawabannya bisa berbeda-beda. Ada yang memaknai bahwa kaya itu adalah kaya harta, ada yang memaknai kaya itu adalah kaya hati,ada yang memaknai kaya itu adalah kaya artis bahkan ada juga yang memaknai kaya itu adalah kaya hantu hi...hi.

Setiap orang bebas dalam memaknai kekayaan tapi dalam pembahasan modul kedua kali ini kita akan membahas tentang teori keseimbangan dimana kekayaan harta dunia dan kekayaan akhirat bisa selaras sehingga tidak berat sebelah pada salah satu sisinya.

Untuk tidak terjebak pada makna kekayaan, baik dalam pandangan yang menganggap kekayaan adalah segalanya sehingga hanya uang yang bisa membuat kita bahagia dan juga sebaliknya, tidak salah jika kita cermati beberapa mitos yang mengemuka dalam masyarakat berkaitan dengan uang atau pun kekayaan.

Pertama, buat apa mengejar kekayaan, kekayaan tidak menjamin kebahagiaan, kekayaan tidak menjamin masuk surga.*

Mitos ini sekilas benar tetapi mitos ini tidak berimbang. Seakan-akan kaya itu kotor, uang adalah sumber kejahatan, uang tak bisa membeli kebahagiaan. Kata-kata menggambarkan pikiran yang menghidupkan perasaan. Jika mind set salah ini dibiarkan terus-menerus maka akan menginternalisasi ke diri Anda menuju alam bawah sadar sehingga Anda sulit untuk meningkatkan potensi finansial Anda.

Bukankah Rasullulah SAW mengajarkan kita doa agar tetap berimbang, Robbana Atina Fiddunya Hasanah, Wa fil Akhirati Hasanah Wa qina Adza bannar ( Ya Tuhan kami berikanlah kebaikan dunia dan kebaikan akhirat serta jauhkanlah kami dari api neraka). Kita tidak boleh melupakan dunia, kita ini tidak hidup untuk diri kita sendiri, kita juga punya tugas dan tanggung jawab sebagai khalifah untuk memakmurkan bumi(kegedean ya :) ). Bukankah begitu kawan?

Bagaimana kalau mitos ini kita balik?

Buat apa mengejar kemiskinan, kemiskinan tidak menjamin kebahagiaan,
kemiskinan tidak menjamin masuk surga.*

Tanda * memenuhi makna syarat dan ketentuan berlaku.

Jadi kita bisa mengambil kesimpulan : Orang masuk surga bukan karena dia kaya atau miskin tetapi masalah ketakwaan dan bagaimana dia bisa bermanfaat bagi orang lain. Betul ora son?

Kedua, mendapatkan uang haram saja sulit bagaimana mencari yang halal?

Wah kalau ada orang yang ngomong begini dapat dipastikan orang tersebut lagi putus asa. Kok putus asa? ya, putus asa dari rahmat Allah SWT. Dia tidak yakin bahwa Allah telah memberi rizki kepada seluruh manusia dan alam semesta tanpa terkecuali. Bahkan semut yang kecil aja sudah ada rezekinya, kita hanya cukup beriktiar/berusaha
saja untuk mengambilnya. Ini hanya masalah keyakinan kawan, jika anda yakin mendapatkan uang halal itu mudah maka akan menjadi mudah begitupun sebaliknya.

Jika Anda percaya pada kehidupan setelah mati, Uang haram itu sangat berbahaya. Bila kedapatan istri Anda mulai tidak patuh, Anak anda sudah berani melawan bahkan diri Anda sendiri telah melupakan Allah SWT maka kemungkinan besar kekayaan Anda terindikasi uang haram.

Duit haram itu dipastikan berdosa di hadapan Allah SWT, Amal dari duit haram pasti tertolak, dan keluarga Anda bisa menjadi tidak harmonis akibat duit haram.

Mungkinkah ada dosa tujuh turunan akibat duit/harta haram? Mmmm...Ini luar biasa berbahaya. Bila amal jariah pahala akan mengalir terus menerus bagi pemberinya tentu saja bila harta berupa rumah, uang atau apa pun yang kita punya dihasilkan dari duit haram dan dipakai terus menerus oleh anak cucu kita maka bukankah terjadi sebaliknya. Anda setuju dengan saya? So, enakan jadi orang baik ya...(anak kecil juga
tahu he...he)

Ketiga, gue bukan keturunan ningrat, mana bisa kaya?

Terkadang kita menyalahkan orang lain atau lingkungan sekeliling kita bila kita terlahir di lingkungan yang kurang bagus kesejahteraannya. Nah konsep guru goblok ketemu murid goblok dari Pak Iman bisa masuk neh ! Menyalahkan orang lain atau lingkungan Anda tidak akan merubah kondisi finansial Anda malah bisa menimbulkan konflik baru. Bukankah ayah dan ibu kita sudah bersusah payah memberikan yang terbaik buat kita? maka hargailah kerja keras beliau sekecil apa pun itu.

Trus gimana dunk bro ! Pertama, akuilah kenyataan hidup Anda. Akuilah gue orang miskin, akuilah "I am Goblok" dalam mencari uang itu jauh lebih baik dari pada kita selalu menyalahkan orang lain. Gentle gitu loh ! kedua, bersyukurlah. Saya yakin masih ada yang jauh lebih miskin dari kita maka mencari orang yang jauh lebih miskin dari kita akan membuat hati kita lebih mudah bersyukur. Bukankah ada pepatah "Di
bawah miskin masih ada yang lebih miskin" he3x just kidding bro, ini hanya untuk mengambil ibroh/hikmah lo bukan untuk menghina kaum miskin. Ketiga, Anda harus yakin bahwa tidak ada yang mustahil di dunia ini bila kita sungguh-sungguh bekerja keras, kalau masalah hasil kita serahkan saja kepada Allah. Terakhir, keempat ya dimulai sekarang aja bos kerja kerasnya jangan di tunda-tunda. Jangan lupa mencari guru
bisnis/keuangan agar lebih cepet dalam mencapai cita-cita keuangan Anda.

Bukankah : Saat anda membutuhkan nasihat hukum, Anda mendatangi pengacara. Saat Anda sakit gigi, Anda pergi ke dokter gigi. Namun saat membutuhkan bantuan keuangan, kebanyakan orang akan mengandalkan saran dan bantuan orang tua. Tentu saja, tak jadi masalah jika orang tua kita adalah seorang milyuner. Namun, jika orang tua kita memiliki kondisi keuangan yang tidak lebih baik dari kita, mengapa kita mendengarkan saran mereka? Bisa jadi, keyakinan mereka yang salah tentang uang mempengaruhi saran mereka. Meskipun maksud mereka baik, saran mereka tentu tidak tepat bagi kita (Paul Hanna). Jadi ingat sama kata-kata Pak Iman, "Dik aku kalau mau mengambil keputusan untuk berinvestasi maka aku akan memutuskannya sendiri" Istri bagaimana? Cukup diberi
tahu dan minta restu saja. Ooo Gitu toh...maka lihatlah sekeliling Anda dan temukan seseorang yang situasi keuangannya lebih baik dari Anda. Temui saja mereka dan mintalah sarannya.

Bersambung.. .....

Materi minggu depan, yaitu :

Keempat, hemat pangkal kaya, kaya itu asetnya banyak.
Kelima, hidup terasa indah jika punya rumah sendiri
Keenam, uang tidak pernah cukup, maka harus dikejar terus

Ok, sahabat komunitas FSQ minggu depan kita sambung lagi. Ingat, tetep
merasa goblok tetapi goblok dinamis yang senantiasa selalu belajar.
Keep "goblok" please...

Budi Wahyu Mahardhika
Business Development Head pada SNF Consulting
budi.w.mahardhika@gmail.com
mahardhika@snfconsulting.com